Kekerasan Dalam Video Game Bikin Anak Lebih Agresif

SehatFresh.com – Sebuah studi baru menunjukkan bahwa kekerasan dalam video game benar-benar dapat mengubah pandangan anak terhadap agresi. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal “JAMA Pediatrics” tersebut, mengamati kebiasaan main game dari 3.034 anak-anak usia 8 sampai 17 di Singapura selama tiga tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan yang ditampilkan dalam video game berpengaruh pada perilaku agresif terkait dengan perubahan dalam cara anak memandang kekerasan.

Kekerasan dalam video game telah menjadi topik hangat yang diperdebatkan sejak game modern ditemukan. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa video game yang menggambarkan kekerasan sebagai menyenangkan, dibenarkan, atau tanpa konsekuensi negatif dapat mengubah pandangan anak tentang agresi dan empati.

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry (AACAP) menyebutkan bahwa anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat. Semakin sering mereka melihat perilaku kekerasan, pergeseran perilaku pada anak semakin mungkin terjadi. Jika anak terus berinteraksi dengan permainan video game yang berbau kekerasan, hal ini akan memengaruhi psikologis anak yang terwujud dalam bentuk perilaku agresif.

Melalui video game, anak seakan-akan melihat hal-hal yang nyata dan kemudian menirunya. Perilaku agresif yang dilihat anak juga bisa terekam dalam pikiran dan perasaan. Jika pikiran dan perasaan itu tidak bisa dikendalikan, akibatnya anak bisa menyerang orang lain dengan kemarahan atau bahkan menyakiti orang tersebut.

Teori lain mengatakan bahwa dalam permainan game seperti game perang di mana tokohnya mendorong agresi sebagai sarana yang diperlukan untuk menang, dari waktu ke waktu akan membuat orang yang bermain game tersebut mengembangkan kecenderungan perilaku yang lebih agresif. Menurut sebuah studi pemindaian otak di Indiana University School of Medicine, remaja yang bermain game perang memiliki gairah emosional yang lebih daripada mereka yang bermain game bukan kekerasan. Mereka juga mengalami penurunan aktivitas otak di bagian yang berhubungan dengan rentang perhatian, rasa malu dan pengendalian diri.

Orang tua harus memastikan anak-anak mereka bermain video game yang informatif atau permainan yang memberi manfaat edukatif. Selain itu, orang tua juga harus berusaha supaya anak-anak melakukan kegiatan bermain di luar untuk mengurangi jumlah waktu yang dihabiskan dengan bermain video game. Pasalnya, kebanyakan anak menggunakan game sebagai pengalihan untuk mengubah suasana hati mereka. Jika dibiarkan menjadi kebiasaan, anak mungkin lupa waktu, tidak tertarik untuk belajar, dan menjadi depresi atau marah jika berhenti memainkan game favoritnya.

Sumber gambar : www.SehatFresh.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY