Kenali Gangguan Mata pada Anak Sejak Dini

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Bagi beberapa orang tua, memeriksakan kesehatan mata anak secara rutin ke dokter mata kurang menjadi perhatian. Bagaimanapun, mencegah lebih baik daripada mengobati, tidak terkecuali soal kesehatan mata. Pemeriksaan mata juga perlu dijadwalkan setidaknya dua tahun sekali. Bahkan sejak usia antara 6-12 bulan, mata anak sudah harus diperiksa guna mendeteksi gangguan mata yang mungkin dapat memengaruhi tumbuh kembangnya. Cukup banyak gangguan mata yang sering terjadi di usia kanak-kanak, diantaranya:

  • Ambliopia, yaitu penurunan penglihatan pada satu mata akibat perkembangan visi abnormal di tahun-tahun awal kehidupan. Menurut Mayo Clinic, kasus gangguan mata yang juga sering disebut lazy eye ini seringkali dijumpai pada anak yang berusia di bawah tujuh tahun.
  • Konjungtivitis, yaitu peradangan pada selaput lendir yang menutupi bagian putih bola mata dan bagian dalam kelopak mata (konjungtiva). Keparahan gangguan mata ini bervariasi, mulai dari kemerahan ringan, mata berair, hingga infeksi serius yang dapat menyebabkan penurunan penglihatan dan kebutaan.
  • Streff syndrome, yaitu gangguan yang menyebabkan penglihatan menjadi kabur sementara, baik itu jarak dekat maupun jauh. Kemampuan fokus mata juga biasanya menurun. Peningkatan stres diyakini sebagai pemicu utama gangguan mata ini.
  • Ptosis, yaitu kondisi di mana kelopak mata atas terkulai sehingga menutupi sedikit atau hampir seluruh pupil. Anak bisa mengalami ptosis sejak lahir. Jika dibiarkan, kelopak mata yang terkulai dapat menghalangi bidang penglihatan dan menghambat perkembangan penglihatan yang normal.
  • Refractive error, terjadi jika mata tidak dapat memfokuskan cahaya dengan benar pada retina sehingga penglihatan menjadi kabur. Gangguan mata ini meliputi rabun dekat, rabun jauh, dan mata silindris.
  • Strabismus (mata juling), yaitu kondisi di mana bola mata tidak sejajar antara satu dengan lainnya ketika melihat suatu objek. Jika dibiarkan, strabismus dapat berkembang menjadi ambliopia.
  • Retinitis pigmentosa, yaitu penyakit degeneratif yang memengaruhi kemampuan retina untuk merespon cahaya. Penyakit ini dapat diturunkan dari satu atau kedua orangtua.
  • Retinoblastoma, yaitu kanker pada retina. Kasusnya sering dijumpai pada anak usia di bawah lima tahun. Penyebab utamanya adalah faktor genetik.

Adanya gangguan mata pada anak dapat menyebabkan kebutaan permanen jika dibiarkan. Tapi, dengan deteksi dini, penglihatan mata anak dapat dikoreksi dengan menggunakan kacamata atau lensa kontak, operasi, ataupun prosedur lainnya.

American Optometric Association menyarankan agar para orangtua memeriksakan mata anak sejak usia 6 bulan, kemudian diulangi ketika usia 3 tahun dan sebelum sekolah. Jika tidak ada masalah yang ditemukan, dianjurkan untuk tetap rutin memeriksakan kesehatan mata secara berkala setiap dua tahun. (RFZ)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY