Kenali Gejala Anafilaksis Pada Kulit

SehatFresh.com – Anafilaksis merupakan suatu reaksi alergi berat yang terjadi tiba-tiba dan dapat menyebabkan kematian. Anafilaksis biasanya ditunjukkan oleh beberapa gejala termasuk di antaranya ruam gatal, pembengkakan tenggorokan, dan tekanan darah rendah. Reaksi ini umumnya disebabkan oleh gigitan serangga, makanan, dan obat.

Sistem kekebalan melepaskan antibodi. Jaringan melepaskan histamin dan zat lainnya. Hal ini menyebabkan penyempitan saluran udara, sehingga terdengar bunyi mengi (bengek), gangguan pernafasan, dan timbul gejala-gejala saluran pencernaan berupa nyeri perut, kram, muntah dan diare.

Histamin menyebabkan pelebaran pembuluh darah (yang akan menyebabkan penurunan tekanan darah) dan perembesan cairan dari pembuluh darah ke dalam jaringan (yang akan menyebabkan penurunan volume darah), sehingga terjadi syok. Cairan bisa merembes ke dalam kantung udara di paru-paru dan menyebabkan edema pulmoner.

Seringkali terjadi kaligata (urtikaria) dan angioedema. Angioedema bisa cukup berat sehingga menyebabkan penyumbatan saluran pernafasan. Anafilaksis yang berlangsung lama bisa menyebabkan aritimia jantung.

Gejala-gejala yang bisa ditemui pada suatu anafilaksis adalah:

  • Kaligata
  • Gatal di seluruh tubuh
  • Hidung tersumbat
  • Kesulitan dalam bernafas
  • Batuk
  • Kulit kebiruan (sianosis), juga bibir dan kuku
  • Pusing, pingsan
  • Kecemasan
  • Berbicara tidak jelas
  • Denyut nadi yang cepat atau lemah
  • Jantung berdebar-debar (palpitasi)
  • Mual, muntah
  • Diare
  • Nyeri atau kram perut
  • Bengek
  • Kulit kemerahan.

Berikut cara mengobati anafilaksis:

  1. Manajemen Gangguan Pernapasan

Sistem kardiovaskular yang dipengaruhi oleh reaksi alergi yang parah akan membuat penderitanya mengalami gangguan pernapasan. Saat pernapasan pasien berhenti, cardiopulmonary resuscitation (CPR) harus dilakukan. CPR adalah bagian integral dari manajemen jalan nafas.

Untuk alasan yang sama, suplementasi oksigen merupakan bagian penting dari perawatan anafilaksis di rumah sakit. Harus dipastikan pasien tidak menderita komplikasi karena kadar oksigen yang rendah dalam darah.

  1. Cairan Intravena

Anafilaksis menyebabkan pembengkakan tenggorokan sehingga pasien tidak dapat menelan makanan atau minuman. Dalam keadaan seperti itu, cairan harus diberikan secara intravena.

  1. Suntikan Epinefrin

Karena pelepasan histamin menyebabkan cairan bocor (keluar) dari pembuluh darah, epinefrin diberikan sehingga dapat menyempitkan pembuluh darah. Epinefrin adalah hormon yang bertindak menginduksi proses ‘melawan atau melarikan diri’ saat seseorang berada di bawah ancaman.

Pemberian epinefrin menyebabkan jantung memompa darah lebih cepat dan membantu dalam pelebaran saluran udara ke paru-paru. Epinefrin membalikkan efek dari zat dilepaskan selama syok anafilaksis dan digunakan sebagai bagian dari pengobatan darurat.

4. Terapi Obat

Obat diberikan untuk menghentikan pelepasan histamin. Obat tersebut disebut sebagai antihistamin yang berfungsi membalikkan efek histamine, karena itu digunakan untuk mengurangi gejala alergi Kortikosteroid atau obat anti-inflamasi mungkin juga diresepkan untuk menurunkan peradangan.

Sumber gambar : blog.tokopedia.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY