Kenali Tanda dan Gejala Klinis Emboli Air Ketuban

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Tahukah anda emboli air ketuban? Emboli air ketuban merupakan masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Komponen disini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban, seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin dan musin atau cairan kental. Emboli air ketuban juga merupakan komplikasi yang jarang terjadi pada persalinan, khususnya melahirkan bukan dengan persalinan normal. Komplikasi ini tidak dapat diduga atau dihindari. Kondisi ini amat jarang 1:8000-1:30.000 dan sampai saat ini mortalitas maternal dalam waktu 30 menit mencapai angka 85%.

Dalam emboli air ketuban, cairan amnion masuk kedalam sirkulasi darah melalui rahim atau saluran plasenta. Saat cairan tersebut masuk ke dalam pembuluh darah, akan terjadi syok anafilatik dengan reaksi bergantung pada lokasi hambatan. Bila terjadi di saluran menuju jantung, dapat terjadi gagal jantung. Jika terjadi di saluran menuju paru-paru, akan terjadi gagal pernapasan serta perdarahan.

Lebih dari 50 persen pasien dengan emboli air ketuban mengalami kematian dalam 1 jam pertama, dan 50 persen pasien yang selamat akan mengalami gangguan pembekuan darah sebagai perdarahan dari rahim atau dari luka operasi. Proses emboli air ketuban bisa berlangsung sangat cepat, dalam 1 jam sesudah melahirkan, nyawa ibu yang mengalami emboli air ketuban tidak lagi bisa tertolong. Apalagi muncul secara tiba-tiba tanpa diduga sebelumnya dan proses berlangsung dengan cepat. Pada ibu bersalin kasus emboli air ketuban kematiannya mencapai 86%.

Kasus emboli air ketuban sulit dicegah, tidak dapat diprediksi. Diagnosis pasti didapat dengan otopsi. Dimana terlihat komponen air ketuban tersebar di pembuluh darah paru.Diagnosis yang bisa ditegakkan adalah diagnosis klinis dimana dokter akan mengamati gejala klinis si ibu.

Tanda dan gejala klinis emboli air ketuban sebagai berikut:

  1. Hilangnya kesadaran ibu atau kejang, kadang perdarahan merupakan tanda awal.
  2. Edema paru atau sindrom distress pernafasan dewasa.
  3. Pasien batuk batuk
  4. Tekanan darah turun secara signifikan dengan hilangnya diastolik pada saat pengukuran (hipotensi)
  5. Sianosis perifer dan perubahan pada membran mukosa akibat dari hipoksia.
  6. Janin bradycardia sebagai respon terhadap hipoksia, denyut jantung janin dapat turun hingga kurang dari 110 denyut per menit. Jika penurunan ini berlangsung selama 10 menit atau lebih, itu adalah bradycardia. Sebuah tingkat 60 denyut per menit atau kurang lebih 3-5 menit mungkin menunjukkan bradycardia terminal.
  7. Colapsakibat persalinan normal atau caesar

Kejadian emboli air ketuban ini lebih sering terjadi pada ibu yang memiliki kelainan atau kondisi tertentu pada kehamilannya sehingga membuatnya berisiko terjadi emboli air ketuban, di antaranya:

  1. Persalinan caesar
  2. Usia ibu yang lebih dari 35 tahun
  3. Ibu terdeteksi memiliki kelainan pada plasenta
  4. Jumlah air ketuban yang banyak, disebut dengan polihidramnion
  5. Lepasnya sebagian atau seluruh plasenta
  6. Gawat janin
  7. Luka pada bibir rahim
  8. Robekan pada bibir janin. (KKM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here