Kerusakan Telinga Akibat Paparan Bunyi Keras

SehatFresh.com – Telinga adalah salah satu panca indra manusia yang berfungsi sebagai alat pendengaran dan menjaga keseimbangan tubuh. Berbagai hal bisa memicu kerusakan telinga. Penyebab paling umum dari gangguan pendengaran pada usia muda adalah paparan suara keras. Suara keras di lingkungan dapat merusak struktur telinga yang sensitif, yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran sementara dan bahkan permanen.

Telinga bekerja dengan menangkap gelombang suara di lingkungan kemudian menerjemahkannya menjadi sinyal agar dapat ditafsirkan oleh otak. Gelombang suara berjalan melalui saluran telinga ke gendang telinga sehingga menyebabkannya bergetar. Getaran gendang telinga kemudian berjalan ke tiga tulang kecil di telinga tengah, yang memperkuat dan mengirim ke struktur bagian telinga yang berbentuk siput yang disebut koklea.

Koklea diisi dengan cairan khusus oleh sebuah membran elastis yang disebut membran basilar. Getaran dalam cairan koklea akan menggetarkan membran basilar. Getaran tersebut juga akan menyebabkan membran tektorial ikut bergetar. Getaran kemudian akan diubah menjadi impuls saraf, yang selanjutnya dihantarkan oleh saraf auditori menuju ke otak dan otak akan memberikan tanggapan sehingga bunyi dapat kita dengar.

Suara tiba-tiba, seperti ledakan, tembakan atau petasan, dapat menyebabkan gangguan pendengaran langsung, yang dapat bersifat sementara atau permanen. Selain itu, paparan cukup suara keras berkelanjutan seperti suara dari mesin pemotong rumput, alat-alat listrik atau musik keras, dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang sifatnya kumulatif dan progresif.

Sering terpapar suara keras secara perlahan merusak sel-sel rambut, yang merupakan reseptor sensorik untuk suara dan posisi tubuh. Sel-sel tersebut melapisi basilar telinga. Sel-sel rambut mengirim informasi ke otak melalui saraf koklea. Jika rusak, sel-sel ini tidak bisa beregenerasi. Suara keras juga dapat merusak saraf koklea dan menghambat pengiriman sinyal pendengaran ke otak. Suara percakapan normal adalah sekitar 60 desibel, lalu lintas berat sekitar 85 desibel, mesin pemotong rumput sekitar 90 desibel dan petasan, tembakan dan suara pada konser musik rock berkisar 110-150 desibel. Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD), Amerika Serikat, suara pada atau di bawah 75 desibel umumnya dianggap aman, meski jangka panjang. Namun, paparan suara 85 desibel atau di atas secara terus menerus dapat menyebabkan kerusakan telinga.

Tanda-tanda umum kerusakan telinga akibat sering terpapar bunyi keras adalah sakit telinga dan tinnitus (dering di telinga). Jika Anda merasa bahwa telinga Anda telah terbiasa dengan suara keras, Anda mungkin sudah mengalami kerusakan pendengaran. Banyak orang tidak menyadari mereka telah mengalami kerusakan pendengaran sampai mereka melakukan pemeriksaan.

Kerusakan telinga bisa dicegah. Jika Anda bekerja di lingkungan yang bising, maka kenakanlah penutup telinga atau headphone noise reduction. Anda juga harus mengenakan penutup telinga ketika menggunakan mesin rumput, menggunakan alat-alat listrik yang menimbulkan bunyi keras bahkan ketika nonton konser. Pada anak-anak, salah satu upaya untuk melindungi pendengarannya adalah dengan membatasi penggunaan mainan dengan bunyi-bunyian keras dan memastikan bahwa suara dari perangkat elektronik yang mereka gunakan berada pada volume rendah.

Sumber gambar : hijapedia.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY