Ketidakseimbangan Hormon Pada Wanita

SehatFresh.com – Proses reproduksi wanita dipengaruhi oleh beberapa hormon yang salah satunya adalah hormon estrogen yang berfungsi untuk perkembangan sifat seksual kewanitaan. Wanita juga memiliki hormon androgen yang berperan seperti sifat seksual pria, meskipun kadarnya relatif rendah. Khususnya bagi wanita, ketidakseimbangan hormon bisa menimbulkan masalah kesehatan yang serius mulai dari gangguan menstruasi, infertilitas hingga pengembangan berbagai jenis kanker pada organ reproduksi. Pada wanita, hormon estrogen dan progesterone merupakan dua hormon yang berperan paling utama dalam hal ini.

Ketidakseimbangan hormon pada wanita terjadi bila hormon estrogen terlalu banyak sedangkan hormon progesterone terlalu sedikit. Wanita bergantung pada keseimbangan hormon agar siklus menstruasinya berjalan lancar dan teratur. Dikatakan seimbang bila pengeluaran hormon dari otak sesuai dengan hormon dari indung telur. Namun bila salah satunya mengalami gangguan, maka akibatnya siklus menstruasi pun menjadi terganggu.

  • Masa pubertas
    Pada masa ini, indung telur bisa dikatakan masih “beradaptasi” menghasilkan hormon, sehingga kerapkali terjadi ketidakseimbangan hormon. Ketidakseimbangan hormonedi masa ini ditandai dengan gejala menstruasi belum teratur di mana waktunya terlalu sering, hanya berupa flek-flek, atau siklusnya terlalu lama. Gangguan menstruasi ini bisa berlangsung 1-2 tahun setelah menstruasi pertama. Jika indung telur sudah matang dan hormon telah seimbang, barulah siklus menstruasi berjalan teratur.
  • Masa reproduktif
    PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) merupakan salah satu kondisi yang menyebabkan gangguan hormon dalam tubuh wanita yang umum terjadi pada masa reproduktif wanita. Pada masa ini, tidak jarang banyak pula wanita yang mengalami gangguan siklus haid. Dalam kebanyakan kasus, hormon estrogen berada pada tingkat normal, namun hormon progesteron pada tingkat yang rendah. Jika ketidakseimbangan hormon terjadi pada masa ini, menstruasi menjadi terganggu dan bahkan tidak ada sel telur yang dihasilkan (siklus anovulatoar). Beberapa penyebabnya bisa disebabkan oleh kegemukan, gangguan reseptor insulin, stres, tekanan emosional dan pemakaian obat-obatan tertentu.
  • Menopause
    Setiap wanita pastinya akan mengalami menopause. Sekitar 5 tahun sebelum menopause, indung telur sudah mulai mengalami proses penuaan. Sel telur yang dihasilkan sudah tidak sebaik dulu. Gejalanya sama seperti gangguan haid saat pubertas di mana siklus terlalu cepat, flek-flek, atau siklus terlambat dengan jumlah darah yang banyak. Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan ketidakseimbangan hormon.

Seringkali gangguan atau ketidakseimbangan hormon baru diketahui setelah terdeteksi adanya ketidaknormalan pada sistem reproduksi, yang umumnya ditandai dengan siklus menstruasi yang tidak teratur dan sulit hamil. Ada beberapa pemeriksaan yang bisa mendeteksi adanya gangguan hormon ini, dan umumnya dilakukan melalui tes darah. Untuk hasil pemeriksaan yang lebih akurat, darah mungkin diambil pada hari-hari tertentu dalam siklus menstruasi. Pertimbangan pengobatan akan mengacu pada hasil pemeriksaan. Pada gangguan hormon ringan, pengembalian fungsi hormonal tubuh bisa dinormalkan dengan penerapan gaya hidup sehat. Namun, pada gangguan hormonal tertentu atau terbilang parah, pengobatan mungkin melibatkan tidak hanya pemberian obat saja tapi juga melibatkan prosedur medis yang lebih kompleks.

Sumber gambar : ayysa.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY