Komplikasi Difteri yang Bisa Membahayakan Anak

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Penyakit difteri merupakan penyakit yang disinyalir merupakan penyakit yang mudah sekali menular dan dapat mengancam kehidupan anak. Walaupun pemerintah sudah mengupayakan pencegahan penyakit difteri dengan mencanangkan program imunisasi DPT atau DT untuk bayi dan anak, namun kejadian terinfeksinya bakteri penyebab difteri tidak bisa dianggap sepele. Karena suatu keadaan tertentu, difteri bisa menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat Indonesia.

Apabila anak sudah tertular atau terinfeksi bakteri Corynebacterium diphteriae, selang beberapa hari anak akan mulai menunjukkan gejala-gejala khas seperti muncul selaput lendir pada tenggorokan. Selain itu, gejala yang lebih berat dapat terjadi pada difteri di bagian tonsil (amandel), faring, dan laring, yang biasanya penderita mengalami nyeri saat menelan, demam ringan, anoreksia, dan lemas.

Sebagai dampak terburuk dari terinfeksinya bakteri penyebab difteri adalah kematian. Hal ini dapat terjadi apabila penderita tidak didiagnosa lebih awal atau tidak mendapatkan perawatan khusus. Kematian merupakan dampak dari adanya komplikasi yang disebabkan karena toksin bakteri penyebab difteri. Komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam kehidupan anak karena terinfeksi bakteri penyebab difteri yakni :

  • Gangguan Sistem Pernapasan

Organ utama yang menjadi sasaran bakteri penyebab difteri adalah tenggorokan. Kita tahu bahwasanya tenggorokan juga merupakan bagian dari organ pernapasan. Saat selaput lendir berwarna keabu-abuan muncul dan tidak mendapat penanganan, dikhawatirkan akan mengakibatkan gangguan sistem pernapasan pada anak. Anak akan kesulitan dalam bernapas karena terhalang oleh selaput lendir tersebut, akibatknya tubuh kekurangan pasokan oksigen dan menyebabkan gagal napas.

  • Peradangan Otot Jantung (Miokarditis)

Tahukah Anda bahwa radang pada otot jantung dapat menyebabkan kematian mendadak. Toksin pada penyakit difteri dapat menyebabkan peradangan pada otot jantung, tentu kondisi ini sangat fatal apabila tidak ditangani secara khusus. Peradangan pada otot jantung akan membuat jantung kesulitan untuk memompa darah, dan sebagai hasilnya jantung menjadi lemah.

Pada saat penderita difteri direkam aktivitas kelistrikan jantungnya pada mesin EKG, maka akan tampak garis-garis yang menandakan bahwa jantung tidak dalam kondisi normal.

  • Neuritis

Neuritis dapat diartikan sebagai peradangan yang terjadi pada saraf. Masalah ini jelas dikarenakan penyebaran toksin yang terbawa sampai ke saraf-saraf dalam tubuh, peradangan biasanya terdapat pada saraf tubuh yang membantu menelan dan berkemih. Maka dari itu, penderita difteri biasanya mengalami kesulitan menelan dan kencing.

  • Difteri Hipertoksik

Komplikasi ini bisa dibilang paling parah karena kadar toksin yang dikeluarkan cukup banyak dan dapat menyebabkan perdarahan. Selain itu, akibat paling parah dari komplikasi ini yakni dapat menyebabkan gagal ginjal.

Diperkirakan ada satu dari lima penderita penyakit difteri balita dan anak-anak meninggal dunia, maka dari itu penanganan harus lebih cepat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. (SPT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here