Komplikasi Kelainan Darah atau Thalasemia

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Darah merupakan cairan yang ada pada setiap makhluk hidup termasuk pada manusia, darah berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkat bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Dibalik banyaknya kegunaan darah, ada banyak penyakit mengenai darah salah satunya adalah Thalasemia, ini adalah salah satu jenis penyakit yang menyerang darah yang berupa kelainan khususnya sel darah merah. Penyakit Thalasemia juga merupakan salah satu penyakit genetik, yaitu penyakit yang bisa diturunkan oleh orang tua kepada anaknya.

Pengertian Thalasemia secara medis adalah penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah yang mudah rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal, normalnya darah berumur 120 hari. Keadaan seperti ini diakibatkan karena ketidakseimbangan pembuatan dan produksi salah satu dari ke 4 rantai asam amino yang berfungsi membentuk hemoglobin (HB). Akibatnya penderita thalasemia akan mengalami gejala anemia diantaranya pusing, muka pucat, badan sering lemas, sukar tidur, nafsu makan hilang, dan infeksi berulang. Thalasemia terjadi akibat ketidakmampuan sumsum tulang membentuk protein yang dibutuhkan untuk memproduksi hemoglobin sebagaimana mestinya.

Penderita Thalasemia dapat hidup lebih lama dan baik jika mendapat pengobatan yang tepat. Pengobatan yang tepat tentunya akan membuat penderita dapat terhindar dari komplikasi-komplikasi berikut:

  • Penyakit jantung dan hati. Transfusi darah secara teratur sebenarnya sangat dibutuhkan bagi penderita Thalasemia. Namun, terkadang dapat terjadi “overloading” besi akibat transfusi berlebihan. Besi semakin banyak dibentuk dalam darah. Hal ini dapat mengakibatkan penyakit jantung yang menjadi salah satu penyebab kematian penderita thalasemia. Penyakit jantung yang dimaksudkan disini meliputi gagal jantung, aritmia, dan serangan jantung.
  • Infeksi. Penderita Thalasemia yang sudah mendapat terapi Splenektomi umumnya mudah terkena infeksi. Sebab mereka tidak lagi memiliki organ “infection-fighting”.
  • Osteoporosis. Kebanyakan pasien Thalasemia memiliki masalah cacat tulang, termasuk osteoporosis.
  • Overload zat besi. Komplikasi Thalassemia selanjutnya adalah orang dengan Thalassemia bisa memiliki terlalu banyak zat besi dalam tubuh, baik dari penyakit itu sendiri atau dari transfusi darah yang sering dilakukan. Terlalu banyak zat besi dapat menyebabkan kerusakan pada jantung, hati dan sistem endokrin yang mencakup kelenjar yang memproduksi hormon dan mengatur proses di seluruh tubuh Anda.
  • Deformitas tulang. Pada kasus berat komplikasi Thalassemia yang dapat terjadi ialah Thalassemia bisa membuat sumsum tulang berkembang yang menyebabkan tulang melebar. Hal ini dapat mengakibatkan struktur tulang yang abnormal, terutama di wajah dan tengkorak. Tulang ekspansi sumsum juga membuat tulang tipis dan rapuh menyeb abkan resiko patah tulang.
  • Pembesaran limpa (Splenomegali). Limpa membantu tubuh melawan infeksi dan menyaring bahan yang tidak diperlukan seperti sel darah tua atau rusak. Thalassemia sering disertai dengan penghancuran sejumlah besar sel darah merah, membuat Limpa bekerja lebih keras dari biasanya, menyebabkan Limpa memperbesar. Splenomegali dapat menyebabkan anemia parah dan dapat mengurangi umur sel darah merah. Jika Limpa tumbuh terlalu besar, mungkin perlu dioperasi.
  • Tingkat pertumbuhan melambat. Anemia bisa menyebabkan pertumbuhan anak menjadi terlambat. Masa pubertas juga mungkin tertunda pada anak-anak yang terkena thalassemia.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY