Kondisi yang Mengharuskan Ibu Melakukan Induksi Persalinan

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Induksi persalinan adalah prosedur yang digunakan untuk merangsang kontraksi rahim sebelum persalinan dimulai dengan sendirinya. Jika tanda-tanda persalinan tidak mulai dengan sendirinya, induksi persalinan mungkin akan dilakukan untuk merangsang bayi agar cepat lahir.

Induksi persalinan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pemberian obat atau metode lainnya. Dengan cara apa induksi persalinan dilakukan tergantung dari kesiapan tubuh ibu untuk melahirkan. Jika kondisi leher rahim ibu belum mulai melunak, menipis, atau membuka, artinya tubuh ibu belum siap untuk melahirkan. Nah, berikut beberapa kondisi yang membuat induksi persalinan harus dilakukan:

  1. Ketuban pecah dini

Ketuban pecah dini merupakan suatu kondisi pecahnya air ketuban sebelum adanya tanda-tanda persalinan. Tujuan dilakukannya induksi persalinan pada kasus ketuban pecah dini yaitu untuk meminimalisir terjadinya infeksi yang dapat membahayakan kondisi ibu dan janin. Pada umumnya apabila seseorang mengalami kasus ketuban pecah dini sebelum dilakukannya induksi persalinan dokter memberikan obat antibiotik.

  1. Kehamilan lewat waktu

Kehamilan lewat waktu dalam dunia medis disebut dengan serotinus, post date, dan post term. Kondisi ini dimana usia kehamilan melabihin dari hari perkiraan lahir (HPL) atau usia kehamilan >42 minggu. Kondisi tersebut harus membutuhkan tindakan terminasi salah satunya berupa induksi persalinan. Tujuan dilakukannya induksi persalinan dalam kondisi ini yaitu untuk mencegah terjadinya kondisi gawat janin yang disebabkan oleh fungsi plasenta yang menurun dan mengurangi cairan ketuban yang disebut dengan oligohidramnion. Hal tersebut apabila tidak segera ditangani dapat mengakibatkan kematian janin dalam kandungan.

  1. Janin mati dalam

Induksi persalinan dapat dilakukan pada kondisi apabila bayi telah meninggal dalam kandungan, kondisi tersebut dalam istilah medis disebut dengan IUFD. Menurut Sarwono tahun 2005 menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan IUFD yaitu suatu kematian hasil konsepsi sebelum dikeluarkan dengan sempurna dari rahim ibunya, kondisi tersebut tanpa memandang usia kehamilan.

  1. Preeklamsi dan eklamsi

Preeklamsi merupakan suatu kondisi dimana terjadinya keracunan kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah sama atau lebih dari 140/90 mmHg yang disertai dengan pemeriksaan laboratorium dimana menunjukan adanya protein urine. Apabila kondisi ini tidak dapat ditangani dapat menyebabkan eklamsi. Eklamsi merupakan suatu komplikasi dari preeklamsi yang ditandai dengan kejang. Penanganan preeklamsi, diantaranya :

  • Kurang bulan
  1. Preeklamsi ringan : dilakukan pemantauan tensi setiap seminggu sekali, diet, pemberian obat hipertensi, dan perbaiki asupan nutrisi.
  2. Preeklamsi berat : dilakukan tindakan terminasi yang pada umumnya dilakukan induksi persalinan berupa drip oxytosin 0,5 IU. Dan apabila induksi tersebut gagal dilakukan secsio sesarea.
  • Cukup bulan

Apabila usia kehamilan sudah aterm dan ibu mengalami preeklamsi ringan atau berat maka biasanya dokter menganjurkan untuk dilakukannya induksi persalinan berupa drip oxytosin.

5. Penyakit akut kronis

Kondisi yang dapat dilakukannya induksi persalinan yaitu apabila ibu mengalami penyakit akut kronis seperti diabetes, hipertensi, ginjal dan lain sebagainya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here