Konsumsi Gula Berlebih Picu Penuaan Prematur

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kehidupan kita sehari-hari tidak terlepas dari gula. Gula hampir selalu dalam masakan, minuman, maupun snack; meski dengan kadar yang berbeda-beda. Gula memiliki peran yang penting dalam ekonomi, industri, maupun kesehatan. Tanaman penghasil gula, seperti tebu dan bit, merupakan produk komoditas yang menjadi sumber pemasukan utama bagi negara-negara berkembang. Gula berperan memberikan rasa manis dan gurih pada makanan, serta berperan sebagai komponen preservasi dan membantu proses fermentasi pada beberapa produk makanan. Di dalam tubuh, metabolisme gula dan karbohidrat menghasilkan adenosine triphosphate (ATP) yang berfungsi sebagai energi untuk fungsi-fungsi seluler. Di bidang kesehatan, gula membantu mencegah hipoglikemia, dan dehidrasi pada kasus-kasus seperti diare dan muntaber.

Secara umum, gula dalam makanan terbagi menjadi 2 kategori, yaitu gula natural yang terdapat secara alami dalam buah (fruktosa) dan susu (laktosa), dan gula tambahan (yaitu gula yang ditambahkan ke dalam makanan). Gula tambahan seringkali terdapat dalam permen, biskuit, pastry, minuman berperasa, minuman bersoda, yogurt, ice cream, selai, dan beberapa jenis makanan penutup. American Heart Association merekomendasikan konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 100 kalori/hari pada wanita (atau setara 6 sendok teh per hari) dan  pada pria tidak lebih dari 150 kalori/hari (atau setara 9 sendok teh per hari).

Konsumsi gula berlebih memberikan efek yang kurang baik bagi kesehatan. Kelebihan gula dalam tubuh (hiperglikemia) menjadi faktor pemicu berbagai penyakit seperti diabetes mellitus, kolesterol, penyakit asam urat, penyakit kardiovaskuler, bahkan mempercepat tanda-tanda penuaan. Dalam artikel ini, penulis akan membahas bagaimana pengaruh konsumsi gula berlebih pada proses penuaan prematur.

Normalnya, dalam tubuh terjadi proses glikosilasi, yaitu ikatan kovalen antara molekul gula dengan asam amino, molekul lipid, atau molekul organik lain, dengan perantaraan enzim. Proses ini penting dalam menentukan struktur dan stabilitas protein dalam aktivitas seluler. Konsumsi gula berlebih memicu proses glikasi, proses yang mirip dengan glikosilasi, tetapi tidak dikontrol dengan enzim perantara.

Pada kulit, proses glikasi yang terjadi adalah ikatan silang antara molekul glukosa atau fruktosa dengan asam amino yang terdapat dalam kolagen dan elastin. Proses ini menghasilkan advanced glycation end products (AGE). Terjadinya hiperglikemia dalam tubuh menyebabkan percepatan proses glikasi. Selain memproduksi AGE, proses glikasi mengubah sifat dari protein yang dijadikan target.

Pada kulit, kolagen telah mengalami glikasi mengalami perubahan sifat biomekanis yang menyebabkan kekakuan dan berkurangnya fleksibilitas kulit, dan menjadi sangat peka terhadap rangsangan mekanis. Perubahan ini disertai produksi AGE mengubah respon kolagen terhadap matriks protein lain. Kolagen yang sudah mengalami glikasi akan menolak degradasi oleh MMP, sehingga tidak dapat dihancurkan untuk digantikan dengan kolagen fungsional yang baru. Hal ini mengakibatkan pergantian sel dan permeabilitas jaringan terganggu.

Selain mempengaruhi kolagen, AGE juga mempengaruhi elastin. Protein elastin yang telah mengalami glikasi ini banyak terdapat pada kasus solar elastosis (akumulasi elastin yang abnormal pada kulit karena paparan sinar matahari), sehingga proses ini sering dikaitkan dengan photoaging, yaitu proses penuaan prematur pada kulit akibat pajanan radiasi ultraviolet. Keterlibatan radiasi ultraviolet diduga berpengaruh terhadap pembentukan AGE dan perubahan sensivitas sel terhadap rangsangan. Gangguan pada elastin ini menyebabkan kulit tampak kering, berfisur-fisur, dan melorot. (MHW)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here