Kurangnya Asupan Zinc dan Protein Beresiko Anak Alami Stunting

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Stunting merupakan suatu kondisi dimana anak mengalami tinggi badan yang tidak sesuai dengan usianya. Stunting dapat dikatakan dengan sebutan kerdil atau tinggi badan yang pendek. Kondisi ini tentunya memiliki dampak buruk bagi kesehatan anak baik di usia kecil maupun di usia dewasanya.

Ada sebuha pernyataan yang menyatakan bahwa asupan zinc dan protein yang kurang dapat mengakibatkan terjadinya kondisi stunting pada anak, benarkah pernyataan tersebut?

Zinc yaitu suatu mikronutrien yang berfungsi untuk proses pertumbuhan. Zinc memiliki struktur yang berperan pada beberapa enzim yang memiliki keterkaitan dengan pertumbuhan fisik, kekebalan tubuh dan fungsi reproduksi. Apabila seorang anak mengalami defisiensi zinc maka akan berpengaruh terhadap pertumbuhan fisiknya.

Zinc juga memiliki hubungan penting dengan hormon tertentu yang terlibat dalam proses pertumbuhan tulang. Hormon tersebut diantaranya samatomedin-c, osteocalcin, testosteron, hormon tiroid dan hormon insulin. Zinc juga membantu proses penyerapan vitamin D terhadap metabolisme tulang dengan cara menstimulasi sintesis DNA yang terdapat di sel-sel tulang. Hal ini menunjukan bahwa zinc memiliki peran dan fungsi yang penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak (Anindita, 2012).

Kekurangan zinc pada anak akan beresiko terjadinya ketajaman indra perasa yang buruk, memperlambat proses penyembuhan luka, gangguan pertumbuhan, menurunnya kematangan seksual. Selain itu apabila seorang anak mengalami kekurangan zinc maka akan mempengaruhi jaringan tubuh yang mengakibatkan kelainan pada proses pertumbuhan. Pada tahun 2010 Rosmalina dan kawan-kawan menjelaskan bahwa kekurangan zinc akan menyebabkan anak mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Arnelina pada tahun 2011 menunjukan bahwa terjadinya stunting lebih banyak terjadi pada anak-anak yang mengalami kekurangan asupan zinc dibandingakan dengan anak yang memiliki asupan zinc yang cukup. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kondisi stunting terjadi pada anak yang memiliki orangtua dengan pendapatan menengah ke bawah.

Hasil penelitian yang dilakukan Arnelina sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Abunada pada tahun 2013 yang melakukan penelitian di negara Palestina dengan menunjukan bahwa anak yang memiliki asupan zinc yang rendah lebih beresiko besar mengalami stunting dibandingkan dengan anak yang memiliki asupan zinc yang normal. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Hidayati pada tahun 2010 menyatakan bahwa anak yang memiliki asupan zinc yang rendah akan beresiko 2,67 lebih besar mengalami stunting.

Selain itu tingginya angka kejadian stunting dipengaruhi oleh asupan protein yang rendah. Hal ini dikarenakan karena protein memiliki peran yang penting dalam proses pertumbuhan seseorang. Sehingga kekurangan protein dapat dijadikan salah satu penyebab terjadinya stunting pada anak.

Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Anindita pada tahun 2012 yang menyatakan bahwa dari 9 anak yang mengalami stunting sekitar 48,5% disebabkan karena tingkat asupan kebutuhan protein yang rendah. Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Cahya pada tahun 2014 menjelaskan bahwa dari 64 responden terdapat 32 anak yang mengalami stunting dan 32 anak yang tidak mengalami stunting. Dari keduanya memiliki supan protein yang berbeda.

Dengan kata lain asupan protein yang kurang dapat menyebabkan terjadinya stunting pada anak. Ciri-ciri anak yang mengalami stunting pada umumnya akan lebih tertekan, pendiam, sulit untuk belajar, pertumbuhan melambat (biasana akan mengalami kenaikan tinggi badan 5 cm/tahun decimal), mengalami pubertas yang lambat, wajah tampak lebih muda, dan pertumbuhan gigi yang terlambat. (KMY)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here