Lima Tanda Anak Trauma

SehatFresh.com – Mental anak yang belum setangguh orang dewasa membuatnya lebih rentan mengalami trauma. Ejekan atau olokan teman sebayanya, pertengkaran orang tua dan kekerasan menjadi penyebab yang paling umum mengapa anak bisa trauma. Trauma adalah gangguan psikis yang ditimbul akibat kejadian yang membuat anak menjadi tertekan. Orang tua diharapkan dapat lebih peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak, karena ini akan sangat berpengaruh pada karakter anak nantinya.

Ketika seorang anak mengalami trauma, dia mungkin menunjukkan ketahanan dan tidak mengalami banyak gejala trauma atau dia mungkin menunjukkan gejala gangguan stres pasca-trauma. Lebih mudah untuk menemukan trauma jika seseorang menyadari bahwa anak mengalami peristiwa traumatis. Namun, ini bisa lebih sulit untuk mengenali gejalanya jika orang tua tidak tahu kejadiannya, salah satunya karena pelecehan seksual oleh orang lain, yang kasusnya kian marak saat ini.

  1. Kecemasan akan perpisahan

Untuk anak-anak, gejala trauma yang paling sering dijumpai adalah kecemasan akan perpisahan. Jika anak Anda semua tiba-tiba menangis, berteriak atau memohon untuk tidak meninggalkannya ketika Anda pergi bekerja atau memasukkannya ke sekolah, mereka mungkin telah mengalami kejadian traumatis. Jika anak usia sekolah dasar berpura-pura sakit berulang kali atau menolak untuk pergi sekolah, bisa jadi itu karena trauma.

  1. Trauma berulang

Menurut  American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, seorang anak yang sudah trauma mungkin mengulangi trauma berulang ketika bermain. Banyak anak tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan mereka melalui kata-kata, sehingga mereka mengungkapkannya melalui bermain. Misalnya, seorang anak yang telah mengalami pelecehan seksual mungkin mengulangi gerakan seksual dengan menggunakan boneka.

  1. Mimpi buruk

Anak-anak yang mengalami peristiwa traumatis lebih mungkin untuk mengalami mimpi buruk daripada yang tidak. Sejatinya, normal bagi seorang anak jika mengalami mimpi buruk sesekali, tetapi jika ia mengalami mimpi buruk berulang kali, itu tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

  1. Kilas balik

Trauma parah dapat menyebabkan kilas balik. Ketika ini terjadi, anak merasa seolah-olah dia mengalami trauma lagi. Misalnya, seorang anak yang terlibat dalam kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawanya mungkin kembali merasakan kecelakaan mobil saat dia mengendarai mobil. Dia seolah melihat apa yang dilihatnya selama kecelakaan, merasakan ketakutan yang sama dan mendengar suara-suara yang sama.

  1. Murung

Anak-anak yang telah melewati peristiwa traumatis biasanya sulit mengatur emosi mereka. Mereka mungkin menjadi mudah meluap-luap dan tampak tertekan. Sering kali, mereka tidak lagi merasa hal-hal yang dulunya membuat mereka bahagia tidak lagi menyenangkan. Misalnya, anak menjadi penyendiri di sekolah atau mungkin tidak lagi tertarik untuk bermain dengan teman-temannya.

Cara paling efektif dan mudah untuk menghilangkan trauma anak adalah dengan memberikan rasa aman dan nyaman pada anak. Orang tua juga harus terus meyakinkan anak jika segala sesuatunya akan berjalan dengan baik. Dengan ini, trauma anak secara perlahan akan hilang. Dukungan orangtua sangatlah penting untuk memperbaiki mental anak yang mengalami trauma. Jika tidak berhasil, segera minta bantuan dokter anak atau psikiater. Orang tua harus terus menemani anak hingga penyembuhan selesai.

Sumber gambar : www.badankb-psp.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY