Manfaat Puasa untuk Kesehatan Mental

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Sebagai ibadah, berpuasa di bulan Ramadhan tidak hanya sekedar menahan makan dan minum saja, tetapi juga mengontrol emosi. Dalam agama pun dikatakan bahwa umat Islam yang berpuasa yang tidak dapat mengontrol emosinya tidak akan mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar. Penelitian ilmiah pun membuktikan bahwa puasa yang dilakukan dengan benar bermanfaat untuk kesehatan mental.

Para ilmuwan telah menggunakan teknologi untuk memahami pengalaman spiritual dan memahami manfaat dari kegiatan spiritual, seperti berpuasa untuk kesehatan fisik dan mental seseorang. Berdasarkan temuan dari berbagai riset, spiritualitas adalah fenomena yang kompleks dan melibatkan berbagai bagian otak.

Puasa merupakan tantangan untuk otak, dan otak merespon tantangan tersebut dengan mengadaptasi jalur respon stres yang membantu otak menangani stres serta menurunkan risiko penyakit. Perubahan ini mirip seperti perubahan yang terjadi dengan melakukan olahraga teratur. Keduanya meningkatkan produksi protein di otak (faktor neurotropik), yang pada gilirannya mendorong pertumbuhan neuron.

Saat tidak ada makanan, tubuh melepaskan bahan kimia untuk membantu melindungi otak dari efek negatif. Selama minggu pertama puasa, tubuh mulai beradaptasi dengan rasa lapar dengan melepaskan hormon katekolamin termasuk adrenalin, norepinefrin, dopamin dan glukokortikoid. Setelah beberapa saat, tubuh merespon stres ini melalui dorongan perasaan yang baik yang dapat meningkatkan kesehatan mental.

  • Meringankan depresi

Menurut riset dari Michaelson tahun 2009, puasa memberikan efek terapi untuk meringankan gejala depresi dan kecemasan. Mekanisme di balik ini diyakini terkait dengan pelepasan endorfin dalam 48 jam pertama puasa. Hal ini pada gilirannya membuat kualitas tidur juga menjadi lebih baik. Kualitas tidur yang baik membuat suasana hati pun semakin baik. Selain itu, berpuasa di bulan Ramadhan juga menciptakan efek positif dari gabungan puasa dan keimanan sehingga dapat membantu mempercepat pemulihan depresi.

  • Meredakan migrain

Puasa dapat meringankan migrain dan menurunkan frekuensi serangan migrain. Selain endorfin, berpuasa juga meningkatkan kadar serotonin di otak. Hal ini pada gilirannya membuat suasana hati lebih bahagia, tenang, serta mencegah serangan migrain.

  • Memperlambat degenerasi saraf

Pada orang tua, risiko penurunan fungsi mental dan gangguan degenerasi saraf (seperti Alzheimer dan Parkinson) semakin meningkat. Kabar baiknya, penelitian menunjukkan bahwa puasa dapat mengurangi perkembangan kondisi tersebut. Puasa meningkatkan bahan kimia yang dikenal sebagai BDNF (brain-derived neurotrophic factor), yang berhubungan dengan peningkatan neurogenesis hipokampus. Hal ini berarti semakin banyak BDNF, semakin besar kemungkinan otak akan membangun neuron baru.

Otak juga merespon puasa melalui autophagy. Autophagy merupakan proses penting dimana sel-sel tubuh memecah struktur lama dan bahan limbah untuk didaur ulang menjadi bahan baru. Melalui proses ini, racun dari sel-sel saraf akan hilang. Autophagy yang lebih rendah berhubungan dengan peningkatan degenerasi saraf. Dengan demikian, peningkatan autophagy dengan berpuasa memperlambat perkembangan gangguan degenerasi saraf.

  • Meningkatkan kemampuan belajar dan memori

Puasa juga dapat merangsang produksi keton (sumber energi untuk neuron). Hal ini dapat meningkatkan jumlah mitokondria dalam neuron. Dengan meningkatnya jumlah mitokondria dalam neuron, kemampuan neuron untuk membentuk dan memelihara hubungan antar neuron juga meningkat. Hal ini pada gilirannya dapat meningkatkan kemampuan belajar dan memori.

Dengan melihat berbagai manfaatnya, maka berpuasa di bulan Ramadhan yang dijalankan dengan ikhlas dan khusyuk dapat menciptakan perubahan diri yang lebih baik secara fisik, mental dan spiritual.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY