Masalah Dehidrasi Pada Anak Balita

Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari cairan dengan komposisi 55% untuk wanita, 60 % untuk pria, dan 75% pada anak. Asupan cairan yang dibutuhkan anak ternyata lebih besar dibandingkan orang dewasa pada umumnya. Anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dengan gerakan fisik yang aktif membutuhkan asupan cairan yang tinggi juga. Dehidrasi terjadi karena asupan cairan tidak sebanyak cairan yang dikeluarkan oleh tubuh. Kebutuhan cairan bagi orang dewasa mencapai 2.000-2.500 ml per-hari, sedangkan pada bayi dan balita mencapai 140-160 ml per kilogram berat badan.

Bukan hanya orang dewasa, anak-anak juga berisiko mengalami dehidrasi selama masa pertumbuhannya. Kebutuhan asupan cairan terkadang tidak terlalu diperhatikan oleh orangtua. Anak terkadang dibiarkan bermain dengan gerak tubuh yang banyak, namun tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup selama bermain. Begitu pula setelah makan, orangtua kadang lupa memberikan minum setelah anak selesai makan. Selain itu, dehidrasi juga dapat terjadi karena beberapa kondisi medis termasuk muntah dan diare berepanjangan, dan demam. Dampak dehidrasi pada anak dapat beragam tergantung tingkat keparahannya.

Pada kondisi ringan sampai sedang, dehidrasi dapat diidentifikasi jika anak tidak pipis selama 6-8 jam, warna urin akan tampak lebih pekat dengan bau yang lebih tajam dari biasanya, tubuh juga akan lemas dan lesu, bibir dan mulut kering, serta tidak mengeluarkan air mata saat mereka menangis. Pada kondisi yang lebih parah, misalnya saat si kecil mengalami muntah dan berak berkepanjangan, gejala dehidrasi dapat berupa, mengigau, mata mendelik sehingga hanya tampak bagian putihnya saja, tangan dan kaki terasa lebih dingin, pusing, dan munculnya rasa kantuk berlebih. Dehidrasi menjadi semakin parah jika anak mengalami demam dan kehilangan cairan melalui keringat. Zat kimia tubuh menjadi tidak seimbang, nutrisi penting menjadi berkurang bahkan hilang dan sirkulasi darah tidak lancar sehingga volume darah turun ke tingkat yang berbahaya.

Di usia balita, anak sedang aktif-aktifnya sehingga cenderung mengeluarkan keringat berlebih setiap hari. Untuk menghindari gejala kekurangan cairan, pastikan ayah dan ibu menawarkan minuman sesering mungkin terutama air putih. Orang tua perlu membiasakan anak untuk minum air secara teratur setiap harinya untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Minum susu cair dapat menjadi salah satu alternatif bagi pemenuhan cairan bagi anak-anak. Konsumsi susu dengan kandungan protein, mineral, dan vitamin tidak hanya dapat mengatasi dehidrasi, tetapi membantu mencukupi kebutuhan nutrisi anak.

*pic family.fimela.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY