Mencegah Diri dari Kelainan Hiperseks

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Karena sejumlah faktor, seseorang bisa menjadi maniak seks karena memiliki masalah perilaku seksual kompulsif (compulsive sexual behavior) atau lebih sering disebut hiperseks. Seseorang seringkali disebut hiperseks ketika melakukan aktivitas seksual secara berlebihan. Namun, hubungan seksual yang dilakukan secara sering tak selalu dapat dikategorikan hiperseks. Menurut Mayo Clinic, hiperseks didefinisikan sebagai suatu kelainan yang dialami seseorang (pria maupun wanita) dalam mengendalikan dorongan seksualnya.

Memang pada dasarnya kecurigaan hiperseks dapat dilihat dari frekeuensi hubungan seks, di mana bila frekuensinya melebihi normal. Akan tetapi, tolok ukur frekuensi seks yang normal sifatnya individual. Pasangan A mungkin biasa melakukan hubungan intim 1-2 kali seminggu, sedangkan pasangan B melakukannya 3-4 kali seminggu. Frekuensi seks keduanya masih dikatakan normal. Namun, bila terjadi peningkatan frekuensi yang drastis, seperti menjadi 3-4 kali atau bahkan lebih dalam sehari, dicurigai salah seorangnya menderita hiperseks. Orang yang hiperseks juga cenderung melakukan masturbasi secara berlebihan dan terus menerus “mengonsumsi” konten pornografi.

Segeralah cari bantuan profesional jika Anda merasa sulit mengendalikan gairah seksual Anda. Terlebih lagi, jika perilaku seksual Anda menyebabkan masalah bagi Anda sendiri ataupun orang lain. Pasalnya, hiperseks dapat berkembang lebih buruk dari waktu ke waktu. Dan penyakit tertentu seperti epilepsi, multiple sclerosis, dan demensia dapat menyebabkan perubahan otak yang memicu perilaku seksual kompulsif. Selain itu, pengobatan dopamine untuk penyakit Parkinson juga diduga dapat memicu perilaku hiperseks. Jika dibiarkan, hiperseks akan menimbulkan masalah lain yang sangat menurunkan kualitas hidup.

Dorongan seksual akan memicu sesorang melakukan tindakan seksual, namun hal tersebut belum tentu membuat seseorang dengan hiperseks merasa puas. Meskipun sudah mengalami orgasme, terkadang orang yang hiperseks tak puas hanya berhubungan seks dengan satu orang saja. Ketika dorongan seksual tak terkendali, pemenuhan kebutuhan seksual tersebut terkadang dilampiaskan dengan “jajan” atau berselingkuh yang seiring waktu perilaku ini meningkatkan kecenderungan berganti-ganti pasangan. Lebih jauh, seseorang yang hiperseks bisa kehilangan fokus diri, menderita penyakit kelamin (HIV/AIDS), menggunakan narkoba, dan bahkan sampai harus berurusan dengan aparat hukum karena melakukan pelecehan atau pelanggaran seksual.

Sebelum semua itu terjadi, sebetulnya hiperseks ini dapat dicegah dengan cara-cara berikut ini:

  • Mendekatkan diri pada Tuhan. Perbanyaklah beribadah karena itu merupakan salah satu cara ampuh untuk menghindarkan diri dari sikap dan pikiran negatif.
  • Mengendalikan stres. Orang yang hiperseks seringkali menggunakan seks sebagai pelarian dari masalah lain, seperti stres, kecemasan, kesepian, dan depresi. Untuk itu, stres sehari-hari perlu dikendalikan dengan cara-cara yang positif, seperti melakukan hobi yang disenangi, travelling, yoga serta diimbangi perilaku hidup bersih dan sehat.
  • Menghindari alkohol dan obat-obatan terlarang. Penyalahgunaan alkohol dan narkoba dapat menyebabkan penggunanya kehilangan kontrol yang pada gilirannya mengarah ke perilaku seksual yang tidak sehat dan berisiko.
  • Menjauhkan diri dari situasi yang berisiko. Hindari situasi di mana Anda akan tergoda untuk terlibat dalam praktek-praktek seksual yang berisiko. Misalnya, bepergian ke tempat “hiburan malam” dan melihat konten-konten pornografi. Jagalah pandangan dan pendengaran Anda dari segala hal yang berpotensi membangkitkan birahi.
  • Hindari menyendiri dan perbanyak aktivitas sosial. Ketika merasa kesepian, Anda akan cenderung merasa bosan dan tertekan, bahkan mungkin melampiaskannya dengan masturbasi atau onani. Seiring waktu, kebiasaan seperti ini dapat memicu perilaku seks kompulsif. Untuk itu, lebih baik sibukkan diri dengan melakukan aktivitas positif bersama keluarga atau teman.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY