Mencegah Sindrom Pra Haid

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Sindrom pramenstuasi atau premenstrual syndrome (PMS) atau sindrom pre haid adalah suatu kondisi yang memengaruhi emosi wanita, kesehatan fisik, dan perilaku selama hari-hari tertentu dalam siklus menstruasi, umumnya sebelum haid tiba. PMS ditandai dengan berbagai gejala, termasuk perubahan suasana hati, mengidam makanan, kelelahan, mudah marah, dan depresi.

Siklus menstruasi rata-rata seorang wanita berlangsung 28 hari. Ovulasi (ketika telur dilepaskan dari ovarium) terjadi pada hari ke 14 dari siklus. Menstruasi umumnya terjadi pada hari ke 28 dari siklus. Gejala PMS mulai muncul sekitar hari ke-14 dan dapat berlangsung hingga tujuh hari setelah dimulainya menstruasi.

Munculnya tanda dan gejala PMS terkait dengan fluktuasi hormonal terkait ovulasi. Fluktuasi serotonin, yaitu zat kimia otak (neurotransmitter) yang memegang peran penting dalam suasana hati juga bisa memicu gejala PMS. Kadar serotonin yang tidak memadai dapat menyebabkan depresi sebelum menstruasi, serta kelelahan, mengidam makanan, dan masalah tidur.

PMS cenderung dialami wanita di akhir 20-an hingga awal usia 40-an. Gejala biasanya dimulai ketika seorang wanita berusia pertengahan dua puluhan. PMS akan berakhir pada menopause ketika seorang wanita berhenti mengalami siklus menstruasi. Seorang wanita yang ibunya memiliki PMS lebih mungkin untuk memiliki PMS juga.

Banyak wanita di tahun-tahun reproduksi mengalami beberapa gejala emosional dan fisik terkait PMS. Sebagian kecil dari wanita melaporkan gejala yang sangat parah dan ini kemungkinan mengindikasikan bentuk PMS yang lebih parah, yaitu premenstrual dysphoric disorder (PMDD). Wanita yang memiliki riwayat depresi menjadi lebih rentan mengalami PMS dan PMDD. Sebelum menstruasi, penderita PMDD dapat mengalami tanda-tanda parah seperti kecemasan, depresi berat, dan gangguan afektif musiman.

Tergantung pada intensitas dan keparahan gejalanya, pengobatan sindrom pramenstruasi dapat berkisar dari gaya hidup hingga penggunaan obat dan terapi. Untuk wanita yang kerap kali mengalami PMS dengan gejala ringan atau sedang, perubahan gaya hidup dapat secara efektif mencegah atau mengurangi gejala. Berikut adalah beberapa perubahan gaya hidup yang dapat mengurangi keparahan dan mencegah PMS:

Modifikasi diet

  • Makan porsi kecil tapi lebih sering.
  • Mengurangi makan makanan asin untuk mencegah retensi cairan.
  • Minum banyak air untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi.
  • Meningkatkan konsumsi makanan yang kaya akan vitamin dan mineral, terutama buah dan sayuran.
  • Membatasi konsumsi kafein, soda, dan alkohol.

Olahraga teratur

Berolahragalah secara teratur setidaknya 150 menit (setidaknya 30 menit sehari dalam lima hari) dalam seminggu. Anda dapat melakukan latihan aerobik seperti jalan kaki, berenang dan bersepeda. Peregangan dan latihan pernapasan seperti yoga dan pilates juga dapat memberikan bantuan dalam mengurangi keparahan gejala PMS.

Kurangi stres

  • Menyeimbangkan porsi kerja dan istirahat.
  • Istirahat yang cukup.
  • Latihan relaksasi otot progresif atau latihan deep-breathing untuk membantu mengurangi sakit kepala, kecemasan atau kesulitan tidur (insomnia).
  • Pijat untuk melemaskan otot-otot yang tegang sehingga tubuh dan pikiran menjadi lebih tenang.

Hentikan kebiasaan buruk

  • Berhenti merokok. Merokok telah terbukti berdampak pada keseimbangan hormon dalam tubuh sehingga dapat memperburuk gejala PMS.
  • Hindari alkohol. Alkohol memperburuk gejala PMS dan meningkatkan risiko kram (dismenore) berkepanjangan selama menstruasi.
  • Tidak menggunakan obat-obatan terlarang.

Jika perubahan gaya hidup tidak terlalu memberi hasil bahkan gejala PMS membuat Anda tidak produktif, segera konsultasikan dengan dokter.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY