Mengatasi Cairan Sedikit saat Berhubungan Intim

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Cairan pelumas yang sedikit dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan rasa nyeri saat penetrasi. Tubuh wanita secara alami akan mengeluarkan cairan lubrikasi (pelumas) yang membasahi area vagina setelah menerima rangsangan seksual yang membuatnya bergairah. Pelumas alami akan diproduksi secara optimal selama kadar hormon dalam tingkat seimbang. Hormon estrogen juga merangsang produksi glikogen sel-sel yang melapisi vagina. Glikogen merupakan senyawa yang dapat melindungi vagina dari infeksi.

Namun, produksi hormon estrogen mulai berkurang dan secara bertahap berhenti ketika seorang wanita memasuki menopause. Rendahnya estrogen membuat produksi pelumas alami menurun sehingga membuat vagina cenderung kering dan kurang elastis. Di sisi lain, wanita yang belum menopause juga dapat mengalami kurangnya lubrikasi saat berhubungan intim. Hal ini dipengaruhi oleh pilihan gaya hidup, di mana hal itu merugikan keseimbangan hormon dalam tubuh.

Masalah cairan pelumas yang sedikit jangan dibiarkan karena akan berpengaruh pada kenyamanan dalam berhubungan intim serta meningkatkan risiko infeksi pada vagina. Untuk itu, cairan sedikit saat berhubungan intim dapat diatasi dengan cara:

  • Meningkatkan foreplay. Pada wanita, sedikitnya cairan saat berhubungan intim dapat disebabkan oleh kurangnya foreplay. Maka dari itu, menghabiskan lebih banyak waktu untuk foreplay dapat membuat wanita semakin bergairah sehingga pelumasan vagina menjadi lebih optimal dan seks pun menjadi lebih intim, menyenangkan dan lebih mudah orgasme.
  • Minum banyak air. Kekurangan cairan juga berkontribusi membuat vagina kering. Oleh karenya, mencukupi kebutuhan cairan setiap harinya dapat meningkatkan pelumasan vagina secara alami. Selain meningkatkan konsumsi air, asupan kafein, alkohol dan minuman lainnya yang bersifat diuretik harus dihindari karena juga menimbulkan efek pengeringan pada vagina.
  • Fitoestrogen. Kedelai, biji rami, seledri dan ceri merupakan makanan yang memiliki kandungan fitoestrogen (hormon pada tanaman yang mirip estrogen). Pada wanita menopause, makanan yang mengandung fitoestrogen diyakini dapat membantu meringankan gejala-gejala menopause, salah satunya vagina kering.
  • Probiotik. Probiotik tidak hanya baik untuk pencernaan, tetapi juga baik untuk menjaga keseimbangan bakteri vagina. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi makanan yang mengandung probiotik secara rutin dapat membantu melawan infeksi vagina di masa pra menopause dan pasca menopause serta menjaga daerah vagina memperoleh pelumasan yang memadai secara alami.
  • Asam lemak. Secara khusus, makanan yang kaya asam lemak omega-3  dapat merangsang produksi pelumas vagina secara alami. Asupan lemak baik ini dapat diperoleh dari salmon, tuna, biji rami, dan biji bunga matahari.
  • Hindari produk pembersih kewanitaan dan cuci vagina. Sabun wangi dan berbasis bahan kimia keras bukan sahabat yang baik bagi vagina, karena dapat merusak keseimbangan pH vagina. Selain itu, praktek douching (cuci vagina dengan cara menyemprotkan air atau cairan lain) juga sebaiknya dihindari. Agar keseimbangan pH terjaga, membasuh vagian dengan air bersih pada pasarnya sudah cukup. Meskipun diklaim dapat membuat vagina sehat dan bersih, membasuh vagina dengan berbagai produk yang kini marak beredar di pasaran, justru hanya akan membuat vagina tidak sehat.
  • Jauhi rokok. Zat beracun dalam rokok juga berpengaruh pada kesehatan organ reproduksi karena mengacaukan keseimbangan hormon. Karena efek ini, kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko menopause dini hingga beberapa kali lipat, terlebih bila kebiasaan merokok dimulai sejak remaja.
  • Hindari stres. Ketika stres tidak terkendali, gairah seks cenderung meredup. Stres mengacaukan sistem tubuh sehingga keseimbangan hormon seks pun dapat terganggu serta hormon otak yang berkaitan dengan sistem kerja estrogen juga terpengaruh.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY