Mengatasi Rasa Lapar pada Anak saat Berpuasa

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Seperti halnya shalat, anak-anak juga perlu belajar berpuasa sejak dini. Dengan begitu, anak akan terbiasa menjalankan ibadah puasa dengan ikhlas, bukannya sebagai tekanan. Menurut sejumlah pakar kesehatan, anak dapat mulai berlatih puasa sejak usia empat tahun. Namun, tentunya durasi puasa anak disesuaikan dengan kondisinya dan jangan sampai terlalu dipaksakan harus tamat hingga maghrib. Terlebih di minggu awal puasa, kondisi fisik anak masih dalam tahap penyesuaian terhadap pengendalian rasa lapar.

Kemampuan anak dalam menahan lapar dan haus ketika berpuasa tidaklah sama. Tak jarang, anak yang berpuasa mengeluhkan rasa lapar atau tergoda setelah melihat makanan sehingga ingin segera berbuka. Bahkan, anak seringkali merengek minta buka puasa di jam-jam terakhir menjelang buka puasa. Di satu sisi, banyak orangtua yang tidak tega melihat anaknya merengek kelaparan. Namun, di sisi lain, puasa juga sangat baik untuk perkembangan anak.

Agar anak tidak terfokus pada rasa lapar selama latihan berpuasa, Anda bisa mencoba mengalihkan perhatiannya dengan beberapa tips berikut ini:

  • Bermain. Bermain menjadi salah satu cara terbaik untuk membantu mengalihkan perhatian anak dari rasa lapar saat puasa. Contohnya seperti menyusun balok, menggambar, dan menirukan suara binatang. Setelah bermain, anak biasanya akan lebih mudah tidur siang. Selain itu, bermain juga dapat dilakukan dengan mengajak anak menyiapkan makanan favoritnya sebagai menu buka puasa dengan berbagai kreasi. Cara ini cukup efektif untuk menyemangati anak berpuasa, mengasah kreativitas anak serta mengoptimalkan kebersamaan orangtua dan anak.
  • Bercerita. Ketika anak rewel minta buka puasa, coba alihkan dengan mengajaknya duduk santai sambil membaca buku cerita khususnya yang berkaitan dengan puasa. Dengan cara ini, orangtua dapat menanamkan beberapa pelajaran penting mengenai manfaat puasa dan menumbuhkan rasa empati anak terhadap orang lain. Agar anak lebih antusias, pilihlah buku cerita anak yang disertai gambar-gambar menarik.
  • Hindari hal yang berbau makanan. Terkadang, anak mengeluh lapar setelah melihat hal-hal yang berbau makanan tanpa disengaja. Untuk itu, orangtua perlu memberi dukungan kepada anak agar tidak tergoda berbagai makanan seperti ketika sedang melihat iklan makanan di televisi.┬áSelain itu, sebaiknya tidak menyimpan makanan ditempat yang mudah dilihat atau dijangkau oleh anak. Simpan makanan di tempat-tempat yang tertutup atau lebih tinggi agar tidak memancing rasa lapar anak.
  • Buat kesepakatan. Sekecil apa pun keberhasilan anak ketika berpuasa, orangtua harus memberikan pujian atas usahanya. Agar anak lebih semangat berpuasa, tidak ada salahnya juga membuat kesepakatan atau menerapkan sistem reward. Misalnya, anak akan dibelikan mainan baru apabila puasanya selalu tamat hingga maghrib. Namun, kesepakatan semacam ini juga harus disesuaikan dengan kondisi fisik anak. Yang lebih sederhana, membuatkan hidangan berbuka sesuai dengan keinginan anak juga sudah bisa dikatakan sebagai kesepakatan. Cara ini juga sekaligus melatih anak berpikir dan menentukan pilihan agar dapat memperoleh apa yang diinginkannya. Bahkan, bila ada tawar-menawar dalam proses membuat kesepakatan, anak juga belajar negosiasi.

Perlu diingat, bila anak mengatakan bahwa ia tidak kuat lagi, orangtua juga tidak boleh memaksakan. Karena masih proses belajar, bolehkan anak untuk membatalkan puasanya. Setelah itu, ajak anak untuk melanjutkan puasanya hingga adzan maghrib tiba. Dari waktu ke waktu, anak akan mulai terbiasa hingga dapat menjalankan ibadah puasa sehari penuh.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY