Mengatasi Rasa Takut Anak pada Perawatan Gigi

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kunjungan ke dokter gigi seringkali menjadi hal yang ditakuti oleh sebagian orang, tidak terkecuali pada anak. Tidak mengherankan jika kebanyakan orang tua mengalami kesulitan mengajak si kecil ke klinik gigi ketika dijumpai permasalahan pada giginya. Lantas, bagaimana pendekatan yang tepat untuk mengantisipasi rasa takut buah hati terhadap fasilitas kesehatan gigi?

Kunjungan pertama adalah momen pengenalan

Jangan tunggu anak Anda sakit gigi terlebih dahulu, baru Anda mengajaknya ke dokter gigi. Hal ini seringkali tidak dipahami orang tua karena telah beredarnya stigma di masyarakat “kunjungi dokter hanya jika sakit”. Kunjungan pertama anak ke klinik gigi sebaiknya berfokus pada sesi pengenalan. Dokter gigi dapat mengenalkan pada anak tentang profesinya dan apa yang dilakukannya. Dokter gigi juga dapat mengenalkan anak pada instrumen yang digunakan untuk merawat gigi, misalnya dokter gigi menyentuhkan kaca mulut atau mencobakan polishing brush dengan putaran rendah di telapak tangan anak.

Pilih waktu yang tepat mengajak anak ke klinik gigi

Menurut The American Dental Association (ADA), waktu yang disarankan untuk kunjungan pertama anak ke fasilitas kesehatan gigi adalah enam bulan sejak munculnya gigi pertama, tetapi sebelum ulang tahun pertama anak. Pemilihan waktu kunjungan berikutnya sebaiknya didiskusikan dengan dokter gigi yang merawat si kecil. Aspek yang perlu diperhatikan dalam memilih waktu kunjungan buah hati ke dokter gigi adalah kondisi emosi anak. Jangan pernah mengajak si kecil yang sedang ngambek ke dokter gigi. Bila anak sudah terlanjur tidak senang, kunjungan ke klinik gigi sebaiknya ditunda sampai anak ceria kembali.

Pemeriksaan gigi setelah sesi pengenalan disertai penjelasan

Pada kunjungan pertama, setelah sesi pengenalan dokter gigi pada anak, dokter gigi sebaiknya menawarkan untuk memeriksa gigi si kecil. Setelah pemeriksaan intraoral, dokter gigi dapat menjelaskan pada orang tua dan anak tentang kondisi gigi dan mulut anak. Yang perlu diperhatikan di sini adalah pemilihan bahasa yang digunakan untuk menjelaskan kepada si kecil, karena pemahaman anak tentunya berbeda dengan orang dewasa. Dokter gigi dapat menjelaskan kondisi gigi anak dengan menyelipkan di dalam cerita atau ilustrasi, lalu menjelaskan pula bagaimana cara menjaga kebersihan gigi dan mulut disertai demo. Kemudian, dokter gigi dapat meminta anak mengulang apa yang sudah dicontohkan untuk mengetahui apakah anak sudah mengerti dengan penjelasan yang diberikan.

Libatkan anak dalam memutuskan perawatan gigi

Jika dalam pemeriksaan gigi di kunjungan pertama ditemukan permasalahan pada gigi anak, dokter gigi dapat menjelaskan pada orang tua dan anak. Perhatikan juga pemilihan kata agar tidak menakuti anak. Dokter gigi dapat menceritakan masalah gigi tersebut dalam rupa cerita seperti pada poin sebelumnya, lalu menjelaskan apa yang sebaiknya dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut dan akibat bila tidak dilakukan. Setelah memberikan penjelasan yang cukup, berikan motivasi pada anak untuk memutuskan apakah dirinya ingin mendapat perawatan gigi, dan ajaklah si kecil menentukan jadwal kunjungan berikut untuk melakukan perawatan tersebut. Dokter gigi dapat melontarkan pujian pada anak yang sudah berani membuat pilihan untuk dirawat.

Hindari memberikan ancaman, hadiah, maupun hukuman

“Kalau kamu tidak mau nurut, disuntik loh!” Sebagian dari kita mungkin tidak asing dengan ancaman ini. Tanpa disadari oleh beberapa orang dewasa, ancaman seperti ini menumbuhkan rasa takut anak terhadap sosok dokter gigi. Beberapa orang tua mengancam akan menghukum si kecil jika tidak mau giginya dirawat. Tindakan ini juga tidak disarankan karena anak akan semakin phobia dengan perawatan gigi. Menjanjikan untuk memberikan hadiah juga sebaiknya tidak dilakukan karena si kecil dapat menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dia akan selalu meminta imbalan agar mau dirawat giginya.

Jadilah teladan yang baik bagi buah hati Anda

Anak memandang orang tua sebagai teladan dan cenderung meniru apa saja yang dilakukannya. Orang tua tidak bisa menuntut anak untuk menerima perawatan gigi jika dirinya sendiri tidak mau dirawat giginya. Ajaklah si kecil setiap Anda akan melakukan pemeriksaan berkala atau perawatan gigi. Biarkan anak menemani dan melihat bahwa Anda sebagai orang tua tidak takut terhadap perawatan gigi. Jika anak melihat Anda berani, akan timbul rasa penasaran dalam diri anak dan keinginan untuk mencobanya sendiri.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY