Mengenal Dismenorea (Nyeri Haid)

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Bagi beberapa wanita wanita, haid bisa terasa menyiksa akibat rasa sakit yang luar biasa saat hari pertama, bahkan hingga menyebabkan tidak bisa beraktivitas. Secara medis, istilah untuk menyebut nyeri haid ini adalah dismenorea. Dismenorea ini biasanya terasa sebagai kram otot yang menyakitkan di perut bawah, yang kadang-kadang dapat menjalar ke punggung dan paha. Rasa sakit biasanya berlangsung selama 48-72 jam, serta seringkali disertai gejala sindrom pramenstruasi, seperti mual, muntah, kelelahan, dan diare. Para ahli menganggap dismenorea sebagai hal yang wajar. Namun, dismenorea berat mungkin memiliki kondisi medis yang mendasarinya.

Apa penyebab dismenorea?

Selama menstruasi, rahim berkontraksi untuk meluruhkan lapisannya, yang keluar sebagai darah mensturasi. Ketika dinding otot mengontraksi rahim, pembuluh darah yang melapisi rahim menjadi tertekan. Hal ini mengakibatkan terpotongnya suplai darah serta oksigen ke dalam rahim. Tanpa oksigen yang memadai, jaringan di dalam rahim melepaskan zat yang memicu rasa sakit di tubuh. Selain itu, tubuh juga melepaskan zat seperti hormon yang dikenal sebagai prostaglandin. Prostaglandin mendorong otot-otot rahim untuk berkontraksi lebih kuat, sehingga rasa sakit menjadi semakin berat. Belum diketahui secara pasti mengapa beberapa wanita mengalami nyeri haid yang lebih berat daripada yang lainnya. Sejauh ini, para ahli meyakini bahwa beberapa wanita mungkin memiliki kadar prostaglandin lebih tinggi, sehingga kontraksi rahim mereka jauh lebih kuat daripada wanita lain.

Dismenorea diklasifikasikan menjadi dismenorea primer dan dismenorea sekunder. Dismenorea primer terjadi pada wanita yang mengalami nyeri haid sebelum dan selama menstruasi, tetapi kondisinya sehat. Pada dismenorea sekunder, rasa nyeri terkait dengan masalah yang memengaruhi rahim atau organ panggul lainnya, seperti endometriosis, fibroid rahim, dan penyakit radang panggul. Mengobati penyebab yang mendasari adalah kunci untuk mengurangi rasa sakit yang timbul akibat dismenorea sekunder. Sedangkan myeri haid yang tidak disebabkan oleh kondisi yang mendasarinya, intensias nyeri haid akan berkurang seiring usia dan mungkin berhenti setelah seorang wanita melahirkan.

Di sisi lain, ada sejumlah faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan wanita tertentu mengalami dismenorea, yaitu:

  • Berusia kurang dari 20 tahun
  • Memiliki riwayat keluarga dismenorea
  • Menstruasi tidak teratur
  • Merokok
  • Belum pernah melahirkan
  • Mengalami pubertas sebelum berusia 11 tahun (pubertas dini)

Perlukah ke dokter?

Sebagian besar kasus dismenorea bersifar primer sehingga dapat diobati di rumah. Jika Anda sudah mulai menstruasi dalam beberapa tahun terakhir dan mengalami nyeri haid, kemungkinan nyeri haid tersebut tidak terkait kondisi medis lainnya. Rasa nyeri yang timbul dapat diredakan dengan obat pereda nyeri yang dijual bebas. Ada juga sejumlah teknik self-help yang dapat membantu meringankan gejala, seperti menerapkan bantal panas pada perut, memberi pijatan ringan pada perut atau punggung bawah, atau melakukan olahraga ringan. Jika hal-hal tersebut tidak membantu, jangan ragu untuk segera meminta saran dokter.

Jika setiap nyeri haid membuat Anda tidak bisa beraktivitas, jika gejala semakin memburuk, atau jika Anda berusia lebih dari 25 tahun dan baru mulai mengalami nyeri yang parah, maka itu mengindikasikan perlu adanya evaluasi medis lebih lanjut oleh dokter. Nyeri haid yang disebabkan oleh kondisi medis lain biasanya ditandai dengan perubahan pola dari rasa nyeri yang muncul. Misalnya, Anda mungkin merasa rasa sakit memburuk dengan cepat atau rasa sakit berlangsung lebih lama dari biasanya.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY