Mengenal Gangguan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Apa itu Obsessive-Compulsive Disorder? Kelainan ini ditandai dengan pikiran dan ketakutan tidak masuk akal (obsesi) yang dapat menyebabkan perilaku repetitif (kompulsi). Obsesi adalah gagasan, khayalan atau dorongan yang berulang, tidak diinginkan dan mengganggu yang terlihat konyol, aneh dan menakutkan. Sedangkan kompulsi adalah desakan atau paksaan untuk melakukan sesuatu yang akan meringankan rasa tidak nyaman akibat obsesi.

Gangguan obsesif-kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorder) adalah kondisi dimana individu tidak mampu mengontrol pikiran-pikirannya yang menjadi obsesi, dimana sebenarnya hal itu tidak diharapkannya dan membuat dirinya mengulang beberapa kali perbuatan tertentu untuk dapat mengontrol pikirannya itu dengan tujuan menurunkan tingkat kecemasannya. Obsesi muncul saat pikiran penderita terus dikuasai oleh rasa takut atau kecemasan.

Kemudian obsesi dan rasa kecemasan akan memancing aksi kompulsi di mana penderita akan melakukan sesuatu agar rasa cemas dan tertekan berkurang. Perilaku kompulsif tersebut akan membuat penderita merasa lega untuk sementara. Namun obsesi serta kecemasan akan kembali muncul dan membuat penderita mengulangi pola itu.

Penyebab dari OCD ini belum berhasil diketahui secara pasti hingga saat ini. Walaupun demikian, banyak penelitian yang sudah dilakukan untuk menganalisis faktor pemicu dari OCD. Diantaranya adalah:

  1. Faktor Genetik : Mereka yang mempunyai anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit ini kemungkinan besar beresiko mengalami OCD (Obsesif Compulsive Disorder).
  2. Faktor Organik : Masalah organik seperti terjadi masalah neurologi dibagian-bagian tertentu pada otak juga merupakan salah satu faktor bagi OCD. Kelainan saraf seperti yang disebabkan oleh meningitis dan ensefalitis juga adalah salah satu penyebab OCD.
  3. Kepribadian : Mereka yang mempunyai kepribadian obsesif lebih cenderung mendapat gangguan OCD. Ciri-ciri mereka yang memiliki kepribadian ini ialah seperti keterlaluan mementingkan aspek kebersihan, seseorang yang terlalu patuh pada peraturan, cerewet, sulit bekerja sama dan tidak mudah mengalah.
  4. Trauma pengalaman masa lalu : Pengalaman masa lalu atau lampau juga mudah menggambarkan cara seseorang menangani masalah di antaranya dengan menunjukkan gejala OCD.
  5. Depresi : Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitannya dengan depresi atau riwayat kecemasan sebelumnya. Beberapa gejala penderita obsesif-kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala yang mirip dengan depresi.

Gejala OCD yang dialami seseorang berbeda-beda. Ada yang ringan, di mana penderita menghabiskan sekitar 1 jam bergelut dengan pikiran obsesif dan perilaku kompulsifnya, tapi ada juga yang sudah parah sehingga gangguan ini menguasai dan mengendalikan hidupnya. Penderita OCD juga umumnya terpuruk dalam pola pikiran dan perilaku tertentu. Terdapat 4 tahap utama dalam kondisi OCD, yaitu obsesi, kecemasan, kompulsi dan kelegaan sementara.

Tingkat penanganan OCD pun berbeda-beda, tergantung pada sejauh mana dampak OCD yang seseorang alami dalam kehidupannya. Secara garis besar, ada beberapa langkah untuk menangani OCD, yaitu Terapi Perilaku Kognitif (CBT) dan Penggunaan Obat-obatan. Terapi Perilaku Kognitif adalah terapi yang bisa membantu Anda untuk mengurangi kecemasan dengan mengubah cara pikir dan perilaku Anda.

Terapi ini sering digunakan dalam pemberian treatment pada gangguan kecemasan termasuk OCD. Terapi ini efektif menurunkan rasa cemas dan menghilangkan kebiasaan-kebiasaan itu secara perlahan. Sedangkan penggunaan obat-obatan adalah untuk mengendalikan gejala yang Anda alami. (SFK)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here