Mengenal Tipe Diabetes

Diabetes secara umum merupakan penyakit jangka panjang yang ditandai dengan kadar gula darah dalam tubuh yang sangat tinggi. Diabetes dapat mengakibatkan berbagai komplikasi serius jika diabaikan. Kadar zat gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, saraf, dan organ tubuh. Peningkatan kadar gula yang ringan tanpa memicu gejala pun bisa mengakibatkan dampak jangka panjang.

Ada dua jenis diabetes yaitu diabetes melitus atau yang sering dikenal dengan istilah kencing manis dan diabetes inspidus dikenal dengan istilah penyakit terlalu sering kencing.

Diabetes melitus

Diabetes melitus atau kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan kelebihan kadar glukosa dalam darah. Hal in terjadi dikarenakan kurangnya produksi hormon insulin yang berfungsi mengubah glukosa menjadi glikogen di dalam darah. Ada dua tipe diabetes melitus, yaitu diabetes melitus tipe 1 dan diabetes melitus tipe 2. Jenis diabetes yang paling umum terjadi adalah diabetes melitus tipe 2. Sekitar 80% pengidap diabetes di Indonesia menderita diabetes melitus tipe2. Banyak orang yang masih beranggapan bahwa diabetes melitus tipe 1 sama dengan diabetes diabetes tipe 2. Padahal ada beberapa perbedaan dari kedua tipe tersebut.

  • Diabetes melitus tipe 1 (DM 1)

Pada diabetes jenis ini, pankreas tidak bisa memproduksi insulin sama sekali. Hal ini membuat penderita bergantung pada pemberian insulin dari luar dengan cara disuntik. DM 1 biasanya dialami oleh anak-anak dan remaja. Faktor penyebabnya adalah infeksi virus atau reaksi auto-imun (rusaknya sistem kekebalan tubuh) yang merusak sel-sel penghasil insulin. Biasanya, gejala DM 1 muncul secara mendadak, seperti tiba-tiba sering cepat merasa haus, sering buang air kecil dan badan menjadi kurus. Jika insulin tidak segera diberikan, penderita bisa tiba-tiba tidak sadarkan diri atau mengalami koma diabetik.

  • Diabetes melitus tipe 2 (DM 2)

DM 2 merupakan jenis diabetes yang diderita 90% para penderita diabetes. Selain faktor keturunan, penyebab utamanya adalah gaya hidup tidak sehat.  Umumnya, diabetes tipe ini mengenai orang dewasa, tapi akhir-akhir ini juga banyak mengenai orang-orang yang lebih muda. Berbeda dari DM 1 yang muncul tiba-tiba, DM 2 berkembang sangat lambat, bisa sampai bertahun-tahun. Karena itu, gejalanya sering kali tidak jelas terasa. Penderita DM 2 tidak sepenuhnya memerlukan suntikan insulin karena pankreasnya masih bisa memproduksi insulin. Namun, kinerja insulin mungkin menjadi tidak efektif karena di dalam tubuh tengah terjadi resistensi insulin atau penurunan kemampuan hormon insulin dalam menurunkan kadar gula darah. Jika kondisi ini tidak segera diperbaiki, pankreas akan kelelahan dan kemampuannya untuk menghasilkan insulin akan menurun sehingga gula akan menumpuk di dalam darah. Salah satu faktor pemicu DM 2 adalah kegemukan, terutama kegemukan di daerah perut, kurangnya aktivitas fisik, dan pola makan dengan gizi yang tidak seimbang.

Selain karena menyerang kelompok umur yang berbeda, pengobatan yang diberikan untuk keduanya pun berbeda. Penderita DM 1 biasanya akan lebih sering diberi sulih insulin daripada obat penurun gula darah. Hal ini karena tubuh penderita lebih memerlukan pasokan insulin dibandingkan dengan obat penurun  gula darah. Sedangkan untuk penderita DM 2, pengobatan yang lebih sering digunakan adalah obat penurun gula darah. Pada DM 2, tubuh penderita mengalami gangguan fungsi insulin yang kemudian memicu berkurangnya sensitifitas tubuh terhadap insulin. Dalam hal ini, jika penderita diberi suntik insulin, besar kemungkinannya insulin buatan tersebut akan ditolak oleh tubuh karena sensitifitas tubuh terhadap insulin mengalami penurunan.

Diabetes insipidus

Tipe diabetes ini tidak terlalu populer. Diabetes insipidus adalah suatu kelainan di mana penderitanya menjadi terlalu sering kencing karena tubuh kekurangan hormon ADH (antidiuretic hormone). Hormon ADH adalah senyawa hormon yang berfungsi menstimulasi tubulus ginjal untuk menyerap air lebih banyak dari urin yang akan dikeluarkan tubuh. Kurangnya hormon ADH tersebut mengakibatkan ginjal tidak dapat menyerap kelebihan air yang terlalu banyak sehingga kelebihan air tersebut akan langsung dibuang keluar begitu saja tanpa ada penyerapan kembali. Hal inilah yang mengakibatkan tubuh mengeluarkan air kencing yang terlalu banyak melebihi jumlah normal.

*pic zmescience.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here