Mengenali Perilaku Remaja Bermasalah

Sehatfresh.com – Remaja memiliki karakteristik yang khas. Remaja cenderung energik, selalu ingin tahu, memiliki emosi yang meluap-luap, cenderung berontak dan mengukur segalanya dengan ukurannya sendiri dengan cara berfikir yang kurang logis. Di masa remaja, anak mulai banyak menghabiskan waktu dengan teman, menganggap bahwa orang dewasa tidak dapat mengerti masalah yang mereka, dan mereka cemderung selalu ingin menonjol dan diterima dipergaulan.

Tidak jarang banyak orang tua yang kurang jeli terhadap permasalahan pada anak remajanya. Di masa remaja, hubungan anak dengan teman dapat jauh melebihi hubungan dengan orang tuanya, sehingga komunikasi dengan orang tua mulai berkurang. Mereka senang melakukan sesuatu yang cenderung berisiko dan terlihat hebat. Hal inilah yang sering menyebabkan konflik dengan orangtua dan gurunya. Bahkan, terkadang bentuk perhatian yang berlebih tidak mereka inginkan, karena mereka merasa bahwa dirinya bukan anak-anak lagi.

Beberapa permasalahan remaja yang mungkin timbul diantaranya adalah gangguan pertumbuhan, obesitas, kolesterol, tekanan darah, masalah penampilan, trauma akibat kecelakaan, kenakalan remaja, masalah belajar, prestasi yang buruk, hubungan antar teman, depresi, cemas, hiperaktifitas, bunuh diri, penggunaan obat-obat terlarang serta perilaku seksual yang menyimpang. Pendekatan yang baik sangat diperlukan untuk mengidentifikasi permasalahan yang menyangkut pribadi remaja ataupun lingkungannya. Identifikasi lingkungan menjadi penting karena merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap tingkah dan perilaku remaja. Apabila terdapat kesenjangan antara perkembangan fisik, sosial dan psikologis yang berbeda, maka seorang remaja tidak dapat beradaptasi dengan lingkungannya, dan keadaan ini akan berdampak pada perilaku atau kesehatan mentalnya.

Dalam proses perkembangannya, seorang remaja akan mengalami beberapa peristiwa yang dapat menimbulkan stres serta tekanan emosional dan mereka harus bisa berjuang untuk mengatasinya. Masa remaja adalah fase kritis di mana anak rentan mengalami masalah mental. Stigma masalah mental ini cenderung membuat remaja tersebut takut untuk membicarakan masalahnya pada orang lain sehingga seringkali remaja tidak mendapatkan dukungan yang diperlukannya. Dalam hal ini, orang tua harus bisa mencermati serta menyadari bagaimana kehidupan dalam keluarganya, memantau prestasi anak di sekolah, mengenali lingkungan anak bergaul, mengenali perilaku anak yang tidak biasa serta mengenali berbagai permasalahan anak baik itu di lingkungan keluarga, sekolah ataupun teman sebaya di lingkungannya.

Faktor protektif dapat meminimalkan risiko timbulnya permasalahan yang timbul pada masa remaja sehingga seorang remaja dapat mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dapat memicu masalah bagi dirinya sendiri atau pun lingkungannya. Faktor protektif dapat didukung dengan menciptakan lingkungan yang baik didasari oleh pendidikan agama, peraturan, pengetahuan orangtua mengenai kesehatan remaja dan pola asuh yang tepat. Jika hal tersebut terasa membingungkan, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter, dokter anak, psikolog atau psikiatri.

Sumber gambar : www.kawankumagz.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY