Menghadapi Remaja yang Memiliki Trauma

SehatFresh.com – Bukan hanya orang dewasa yang dirundung masalah psikologis, banyak remaja yang juga mengalami hal serupa. Banyak hal atau peristiwa yang pada akhirnya menimbulkan perbedaan efek psikologis. Masalah bisa merubah seseorang dari segi fisik maupun psikologis, dari yang baik menjadi buruk, begitu juga sebaliknya. Jika perubahan tersebut positif, maka ini akan baik untuk kehidupan selanjutnya. Namun, bila perubahan yang terjadi justru perubahan negatif, maka ini harus menjadi kekhawatiran, di mana trauma adalah salah satu dampaknya.

Berdasarkan dampaknya, trauma dikategorikan menjadi trauma fisik dan trauma psikologis. Trauma fisik adalah trauma yang mengakibatkan luka fisik, seperti kecelakaan, dipukuli, dan lain sebagainya. Sedangkan trauma psikologis disebabkan peristiwa yang melibatkan perasaan atau emosi, seperti menjadi korban bullying, perceraian orangtua, sering dibanding-bandingkan dengan orang lain, dan lain sebagainya.

Gejala trauma pada anak-anak dan remaja dapat dikenali dari perubahan tingkah laku, seperti tiba-tiba menjadi pendiam, murung, tampak cemas, gelisah, sulit tidur, dan mudah takut. Secara fisik, gejala trauma ditandai dengan sering mengeluh pusing, mual, muntah, sakit perut, penurunan berat badan, dan nafsu makan menurun. Bila anak-anak atau remaja menunjukkan gejala-gejala tersebut, orang tua perlu menjaga komunikasi yang baik dengan sang anak. Ini dimaksudkan agar anak tidak merasa takut untuk berbagi peristiwa traumatis yang ia alami pada orang tuanya.

Rasa sakit emosional dan psikologis yang disebabkan oleh trauma pada remaja, menyebabkan mereka cenderung terlibat dalam perilaku yang berisiko. Mereka mengobati diri karena pengalaman traumatis dengan mengonsumsi obat-obatan dan alkohol untuk melarikan diri dari emosi negatif. Hal ini akan mengganggu perkembangan jiwa dewasa muda mereka.

Trauma mengakibatkan perubahan pada otak dan sistem saraf. Akibatnya, kemampuan untuk tampil di sekolah menurun, interaksi negatif dengan teman sebaya meningkat, dan terjadi peningkatan keterlibatan dalam kegiatan berisiko tinggi seperti seks bebas dan penyalahgunaan narkoba. Ini mengakibatkan penurunan kemampuan untuk berhasil dalam hal-hal pribadi, baik itu di sekolah maupun lingkungan lainnya.

Trauma yang berkepanjangan akan memberi dampak buruk bagi perkembangan fisik dan psikologi anak bahkan hingga dewasa nanti. Berikut adalah beberapa pendekatan yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu mengatasi trauma pada anak remajanya:

  • Berikan rasa aman dan nyaman dengan memberikannya pelukan dan yakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Tunjukkan bahwa Anda sebagai orangtua benar-benar peduli dan berusaha selalu ada untuknya.
  • Dorong anak untuk mengekspresikan perasaannya dan dengarkan tanpa menghakimi. Tapi, jangan memaksa anak untuk membahas peristiwa traumatik yang belum mau ia ungkapkan.
  • Biarkan anak-anak dan remaja tahu bahwa merasa kesal atau menangis setelah sesuatu yang buruk terjadi merupakan hal yang wajar bila. Menangis merupakan cara untuk menyalurkan emosi seseorang guna menenangkan gejolak hatinya.

Bila tidak berhasil dengan pendekatan orangtua, cara terbaik yang dapat membantu mengatasi trauma pada remaja adalah dengan perawatan medis dan psikoterapi. Segera cari bantuan profesional seperti psikolog, bila:

  • Setelah orang tua melakukan pendekatan, anak tidak menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
  • Remaja menunjukkan perilaku yang sembrono atau berbahaya.
  • Remaja tampak terus-menerus tertekan atau cemas.
  • Remaja mulai merokok atau minum alkohol.
  • Remaja tidak memberitahu kemana ia akan pergi, apa yang akan dilakukan atau bagaimana perasaannya sekarang.

Perilaku remaja menjadi tidak masuk akal dan tidak mencerminkan karakter yang sebenarnya.

Sumber gambar : sukaremaja.or.id

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY