Normalkah Anak yang Suka Memukul Diri Sendiri

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Siapa yang tidak takut melihat anak sendiri yang berusia 1-2 tahun melukai diri sendiri? Menjambak rambutnya sendiri, mencakar pipi atau memukul anggota badan mereka adalah sebagian contohnya. Apakah hal ini wajar?

Jangan terburu-buru mengira ia menyandang autisme, untuk memastikan hal ini sebaiknya Anda melakukan pemeriksaan terpadu dengan neurolog (ahli syaraf), dokter anak dan psikolog. Para ahli tersebut akan melakukan serangkaian tes dulu sebelum bisa memastikan apakah ia benar-benar autistik atau tidak. Tapi, bila ia masih bisa melakukan kontak mata, masih bisa Anda ajak berkomunikasi dan tidak seolah hidup di dunianya sendiri, tampaknya si kecil bukan seorang autis.

Aktivitas anak yang seolah-olah melukai diri sendiri bisa jadi merupakan wujud ekspresi dari luapan kemarahan karena mereka belum bisa mengungkapkan emosi secara verbal dan menggunakan kata-kata yang lancar. Ia juga belum tahu kalau tindakan memukul kepala itu akan berbahaya karena berisiko mencederainya.

Hampir sebagian besar anak yang sedang meledak emosinya (tantrum) akan memukul, menggigit dan membenturkan kepalanya pada sesuatu. Saat Anda pertama kali mendapati si kecil melakukan hal ini, Anda pasti sangat kaget. Sebenarnya tindakan ini umum dilakukan anak-anak.

Ketika anak sudah mulai tumbuh, ia akan menjelajahi lingkungan dan tahu apa yang dibutuhkan atau diinginkan. Namun, anak belum mampu menyampaikan hal ini. Mungkin ia hanya bisa menunjukkannya dengan gerak tubuh atau juga memberi tahu dengan kata-kata yang tidak jelas.

Ketidakmampuan tersebut membuat anak stres dan frustrasi. Akibatnya, si kecil akan memukul dirinya sendiri sebagai cara untuk mengungkapkan rasa kesal.

Selain itu, anak suka memukuli dirinya sendiri juga bisa terjadi saat ia merasa sakit dan tidak nyaman. Misalnya, saat si kecil terkena infeksi telinga tengah. Telinganya yang sakit dan gatal akan membuatnya menyentuh atau memukul telinganya.

Yang perlu Anda perhatikan adalah seberapa sering anak melakukan hal ini. Jika perilaku ini sangat sering muncul tanpa penyebab yang jelas, kemungkinan besar anak memiliki gejala sindrom spektrum autisme. Anak dengan kondisi ini biasanya menunjukkan gejala seperti memukul dagu, menggigit tangan, menempelkan wajah dengan lutut, memukul kepala, atau membenturkan kepalanya.

Bila Anda mendapati anak Anda melukai diri sendiri saat tantrum, ada berbagai cara untuk mengatasinya. Salah satunya yang sederhana untuk dilakukan adalah memeluknya. Bantuan fisik seperti memeluk akan menenangkan anak. Peluklah anak dan hindarkan anak dari upaya memukul dirinya sendiri.

Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan dan perasaan yang aman dan penuh kasih pada anak. Pelukan juga akan melunakkan hati anak serta mengurangi frustrasi yang ia dirasakan. Jadi, cukup hentikan tindakannya dengan memeluknya erat-erat sampai kemarahannya mereda. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here