Obesitas dan Sleep Apnea

SehatFresh.com – Mendengkur atau ngorok saat tidur bisa dialami oleh siapa saja. Tapi umumnya orang yang bertubuh gemuk lebih sering mendengkur ketika tidur. Ada banyak penyebab orang mendengkur saat tidur. Hal ini bisa terjadi akibat masalah ringan seperti kelelahan, namun bisa juga menjadi indikasi masalah kesehatan yang lebih serius.

Obesitas adalah salah satu penyebab mendengkur yang paling umum. Pada orang dengan obesitas, mereka cenderung memiliki lemak tubuh yang terlalu banyak. Beberapa lemak tersebut terakumulasi di bagian tubuh tertentu seperti di leher dan area tenggorokan. Lemak berlebih pada leher dan tenggorokan bisa mempersempit saluran udara sehingga mengakibatkan kesulitan untuk mengatur napas.

Ketika seseorang berbaring, posisi tersebut akan makin menyempitkan saluran udara sehingga mendengkur menjadi bagian dari usaha tubuh ketika berusaha mengambil oksigen. Peningkatan lemak menyebabkan jaringan otot kehilangan massa otot dan jaringan pada tenggorokan menjadi kendur sehingga lebih mudah untuk mendengkur.

Jika penyebabnya hanya karena kegemukan, menurunkan berat badan bisa memperbaiki masalah. Namun, bila obesitas dicurigai terkait dengan penyebab lain, maka diperlukan penanganan lebih lanjut. Terkadang, orang yang sering mendengkur juga bisa menderita sleep apnea yang mengacu pada terganggunya pernapasan selama 10 detik atau lebih saat tidur. Sleep apnea bisa terjadi beberapa kali dalam suatu waktu sehingga bisa mengganggu kualitas tidur. Individu dengan gangguan tersebut sering mengeluh sakit kepala pagi, sering lelah, kelesuan dan kemurungan. Mereka bisa tertidur hampir di mana saja. Lebih parah lagi, mereka bahkan bisa tertidur saat mengemudi.

Hal buruk lainnya adalah bahwa tidak hanya obesitas yang terkait dengan sleep apnea. Sleep apnea yang berakibat pada kurangnya waktu dan kualitas tidur cenderung menyebabkan orang untuk makan lebih banyak. Dalam hal ini, dicurigai ada hubungan antara hormon rasa lapar dan kenyang serta kurang tidur, meskipun sifat dari keterikatan ini belum sepenuhnya jelas.

Individu dengan sleep apnea sering mengalami peningkatan tekanan darah, glukosa puasa, dan kolesterol tinggi, yang semuanya dapat dibuat lebih buruk dengan kurang tidur. Obesitas (dengan IMT >40) dapat menyebabkan sleep apnea yang kemudian menyebabkan kacaunya kontrol hormon yang mengendalikan kebiasaan makan sehingga berat badan semakin meningkat, memburuk tekanan darah, intoleransi glukosa, memperburuk gangguan tidur yang telah ada dan siklus berlanjut seperti ini terus menerus.

Berbagai pendekatan perilaku, farmakologis hingga prosedur bedah untuk menurunkan berat badan mungkin bermanfaat untuk pasien dengan sleep apnea. Sleep apnea terkadang terjadi hanya dalam beberapa posisi (yang paling sering berbaring terlentang). Mengubah posisi tidur dapat mengurangi dan memperbaiki kualitas tidur Anda. Selain itu, gaya hidup sehat dengan diet secara tepat dan berolahraga dapat membantu penurunan berat badan sehingga berkontribusi pada perbaikan kondisi pasien.

Sumber gambar : mi-comm.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY