Obesitas pada Balita Bukan Hanya Karena Genetik

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Tidak hanya orang dewasa, obesitas juga menjadi ancaman kesehatan serius di kalangan anak-anak bahkan balita. Pasalnya, obesitas membuat anak menjadi lebih rentan terhadap kolesterol tinggi, diabetes dan tekanan darah tinggi. Dulunya dianggap sebagai masalah kesehatan yang hanya menimpa orang dewasa. Selain itu, obesitas juga menurunkan rasa percaya diri anak dan memicu depresi.

Seorang anak berisiko tinggi mengalami obesitas jika setidaknya satu orangtua juga obesitas. Namun, gen tidak berarti seorang anak ditakdirkan menjadi obesitas. Sebelum terlambat, obesitas di masa kanak-kanak bisa dicegah. Penting bagi orangtua mengenal penyebab-penyebab obesitas pada anak guna memahami tindakan pencegahan apa yang harus dilakukan. Terlebih bila keluarga Anda memiliki riwayat keluarga obesitas.

Selain faktor genetik, berikut adalah beberapa penyebab obesitas pada balita:

  • Pola makan yang buruk. Sering memberi anak makanan tinggi kalori (seperti makanan cepat saji, permen, minuman ringan kemasan, dan sejenisnya) dapat memicu kelebihan berat badan. Makanan semacam itu merupakan sumber karbohidrat sederhana yang mana ketika asupannya berlebihan menyumbang kalori tambahan dan akan disimpan sebagai timbunan lemak. Orangtua juga terkadang tanpa disadari membiasakan anak untuk makan dalam porsi besar atau memaksa anak menghabiskan makanannya meskipun sudah kekenyangan.
  • Kurang aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik menjadi alasan lain mengapa anak-anak menjadi obesitas. Saat ini, anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di depan TV yang menyebabkan mereka menjadi kelebihan berat badan. Terlebih bila orangtua juga tidak mendorong anak-anak mereka untuk bergerak aktif.
  • Kurang tidur. Anak-anak yang kekurangan tidur cenderung memiliki kadar ghrelin (hormon yang memicu rasa lapar) lebih tinggi. Tak hanya itu saja, kurang tidur dikaitkan dengan rendahnya kadar leptin, yakni hormon yang bertanggung jawab untuk menghentikan rasa lapar. Kadar leptin yang lebih rendah berarti tubuh tidak tahu kapan harus berhenti makan, sehingga anak menjadi lebih berisiko obesitas.
  • Faktor psikologis. Masalah psikologi merupakan salah satu konsekuensi obesitas. Di sisi lain, obesitas pada anak-anak dan balita juga mungkin berakar dari stres atau tekanan emosional yang mereka alami. Tanpa orangtua sadari, beberapa anak mungkin melampiaskan masalah atau emosi negatif (seperti stres, kegelisahan, atau kebosanan) mereka ke makanan.
  • Kondisi medis. Meskipun terbilang jarang, namun ada beberapa penyakit genetik dan gangguan hormonal yang meningkatkan kerentanan anak terhadap obesitas. Ini seperti hipotiroidisme, sindrom Prader-Willi, dan sindrom Cushing. (RFZ)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here