Obesitas pada Remaja dan Gangguan Kognitif Akibatnya

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Obesitas selama remaja atau bahkan sejak masa kanak-kanak dapat mengganggu proses pematangan otak yang normal. Seperti kita ketahui, kasus obesitas kian meningkat di seluruh dunia. Bahkan, kini obesitas tak hanya menjadi masalah kesehatan bagi orang dewasa, tapi juga memengaruhi kalangan remaja. Ya, banyak remaja saat ini mendapat asupan kalori berlebih akibat gemar mengonsumsi junk food.

Metabolisme yang tinggi dan pertumbuhan yang cepat selama pubertas dapat melindungi remaja dari obesitas. Namun, mudahnya mendapatkan “junk food” karena didukung faktor lingkungan dan gaya hidup kurang aktif tetap saja membuat remaja berisiko tinggi terhadap obesitas. Ini karena ketika kalori yang masuk lebih banyak daripada kalori yang bakar, maka semakin banyak lemak yang tersimpan dalam tubuh. Terlebih bila orangtua juga memiliki riwayat keluarga obesitas.

Remaja yang obesitas dihadapkan dengan sejumlah masalah yang memengaruhi masa dewasanya kelak. Tak hanya memengaruhi tampilan fisik, obesitas juga diketahui merusak otak. Pada remaja, hal ini dapat berpengaruh pada performa akademiknya di sekolah.

Lemak tubuh berlebihan berlebihan diketahui dapat merusak bagian otak yang penting untuk proses belajar dan mengingat. Neuron di daerah otak, termasuk hippocampus, tidak lagi mampu bekerja secara efisien. Hal ini mengarah pada penurunan fungsi pembelajaran.

Seseorang yang obesitas memiliki kemungkinan lebih tinggi menderita sindrom metabolik, yang meliputi resistensi insulin, hipertensi, dan profil kolesterol abnormal. Menurut penelitian dari NYU Langone Medical Center, pemindaian struktur otak dengan magnetic resonance imaging (MRI) menunjukkan bahwa anak-anak obesitas dengan sindrom metabolik memiliki hippocampus yang lebih kecil dan ditemukan adanya perubahan pada materi putih, di mana hal ini dikaitkan dengan gangguan kognitif. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics tersebut juga melaporkan bahwa anak-anak tersebut tampil lebih buruk dalam tugas mengingat, mengeja, dan fungsi intelektual keseluruhan.

Peradangan dianggap berperan sebagai penyebab kelainan otak dan gangguan kognitif terkait obesitas. Kemungkinan lainnya adalah masalah reaktivitas vaskular di mana sel endotel mungkin tidak bekerja efektif pada anak-anak obesitas dengan sindrom metabolik atau pradiabetes. Selain itu, komplikasi obesitas pada otak juga mungkin dipengaruhi BDNF (brain-derived neurotropic factor). BDNF sangat penting untuk pemeliharaan dan perbaikan otak, dan kadar BDNF cenderung lebih rendah pada orang yang mengalami obesitas dan memiliki sindrom metabolik.

Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah penurunan kinerja kognitif akibat obesitas dapat “dipulihkan” dengan penurunan berat badan yang signifikan. Terlepas dari itu, obesitas sangat mengancam kesehatan remaja di masa remajanya maupun masa dewasanya kelak. Untuk itu, obesitas hendaknya dicegah sebelum terlambat. (RFZ)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here