Pelecehan Seksual Era Digital Pada Remaja

SehatFresh.com – Media sosial kini telah menjadi “teman” di dalam kehidupan serba digital remaja masa kini. Internet memang membantu para remaja mendapatkan pengetahuan tambahan yang positif, tetapi juga tidak lepas dari bahaya jika tidak digunakan dengan bijak. Remaja sangat rentan menjadi korban kriminalitas di internet, salah satunya pelecehan seksual.

Ironisnya, tidak banyak orang menggunakan media sosial yang memahami risikonya. Kebanyakan orang terpana dari sisi kesenangan sehingga mereka mengobral informasi mengenai diri dengan gambling. Kasus pelecehan seksual yang berawal dari perkenalan lewat situs jejaring sosial telah banyak diberitakan di media. Korban kebanyakan adalah remaja berusia 13-18 tahun. Pada rentang usia ini, kondisi remaja memang cenderung labil dan mudah terpengaruh perkataan orang lain.

Pelecehan seksual bisa berupa fisik dan emosional :

  1. Kekerasan seksual dengan kata-kata, lisan maupun tulisan.
  2. Perilaku seksual tanpa persetujuan.
  3. Pemaksaan untuk melakukan aktivitas seksual.

Kebanyakan korban pelecehan seksual online melaporkan bahwa awal mula mereka bisa saling kenal dengan pelaku diperantarai media sosial. Berawal dari sering chatting, terus ketemuan, hingga pada akhirnya melakukan aktivitas vulgar.

Oleh karenanya, perlu adanya pengawasan lebih dari orang tua untuk mengawasi anak-anaknya terkait penggunaan internet dan pergaulannya. Beberapa penyebab anak terjebak dalam eksploitasi seksual adalah kurangnya pendampingan dan pengawasan orang tua, faktor ekonomi, kondisi keluarga tidak harmonis, dan pengaruh teman sebaya.

Tidak hanya memberikan pengawasan, orang tua juga harus memberikan edukasi penggunaan internet yang sehat, seksualitas dan bagaimana menjalin pertemanan dengan orang lain. Komunikasi yang baik akan membuat anak terbuka mengenai hal-hal yang menurutnya tidak wajar. Anak sangat perlu diberi pemahaman tentang dasar-dasar seksualitas dan bagian tubuh mana yang sifatnya sangat privat. Pendidikan seks merupakan bagian dari upaya pencegahan agar remaja bisa mengetahui seperti apa dan bagaimanan pelecehan atau kekerasan seksual sehingga bisa menghindarinya. Ini juga membantu para remaja mengetahui konsekuensi atas pilihan-pilihan yang dibuatnya.

Menjadi orang tua yang bijak tidaklah mudah apalagi di era teknologi yang semakin maju seperti saat ini. Dengan tekad yang kuat dan rasa cinta terhadap anak, orang tua pasti bisa menciptakan anak tangguh yang siap menghadapi tantangan zaman. Teknologi harusnya menjadi alat bantu positif anak untuk belajar, bukan yang menjerumuskannya terhadap hal-hal yang negatif. Kita yang seharusnya mengontrol teknologi, bukan sebaliknya.

Sumber gambar : kompol.info

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY