Pelecehan Seksual Pada Anak

SehatFresh.com – Kasus pelecehan seksual pada anak di bawah umur kini semakin sering diberitakan di berbagai media. Pelecehan seksual pada anak didefinisikan sebagai segala jenis kontak seksual antara orang dewasa kepada anak yang berumur di bawah 18 tahun. Pelecehan seksual pada anak juga digambarkan sebagai tindakan seksual yang dilakukan oleh pelaku yang lebih tua atau lebih dominan.

Pelecehan seksual anak melibatkan aktivitas sentuhan atau non-sentuhan:

Aktivitas sentuhan meliputi:

  • Menyentuh alat kelamin anak atau bagian pribadi lainnya untuk kenikmatan seksual.
  • Membuat anak menyentuh alat kelamin orang lain.
  • Meletakkan benda-benda atau bagian tubuh (seperti jari, lidah, atau penis) ke dalam vagina, mulut, atau anus anak untuk kesenangan seksual.

Aktivitas non-sentuhan meliputi:

  • Mempertontonkan pornografi pada anak.
  • Sengaja mengekspos alat kelamin di hadapan anak.
  • Memotret anak dengan pose vulgar.
  • Mendorong anak untuk menonton atau mendengar tindakan seksual.
  • Menonton anak ketika menanggalkan pakaian atau ketika sedang mandi.

Efek dari pelecehan bisa mengakibatkan perilaku antisosial, depresi, kebingungan identitas, kehilangan harga diri dan masalah emosional serius lainnya. Pada anak perempuan, ini seringkali menyebabkan kesulitan untuk berhubungan intim di kemudian hari. Terkadang, anak yang menjadi korban pelecehan seksual menjadi begitu trauma untuk waktu yang lama.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pelecehan seksual pada anak, diantaranya:

  • Anak yang berpotensi menjadi korban: Ini meliputi anak yang cenderung penakut dan sering berpakaian ketat atau terbuka.
  • Anak atau orang dewasa yang berpotensi menjadi pelaku: Meskipun telah didefinisikan bahwa pelecehan seksual anak itu dilakukan oleh orang dewasa pada anak yang berumur di bawah 18 tahun, pada kenyataannya, anak juga bisa melakukan pelecehan pada teman sebayanya akibat meniru orang tua, TV, atau game. Pada orang dewasa, mereka yang berpotensi menjadi pelaku adalah orang yang kecanduan pornografi atau orang yang dulunya juga mengalami kekerasan atau pelecehan seksual.
  • Adanya peluang pelecehan: Kurangnya pengawasan dan perlindungan orang dewasa bisa memicu terjadinya pelecehan seksual pada anak. Hanya tinggal dengan pembantu, ayah tiri, atau ibu tiri merupakan kondisi yang meningkatkan peluang terjadinya pelecehan seksual pada anak. Anak juga hendaknya tidak dibiarkan sering bermain di rumah tetangga yang tidak memiliki anak kecil apalagi hingga tidur atau mandi bersama.

Anak kecil seringkali tidak bisa mengungkapkan pelecehan seksual yang ia terima karena tidak tahu atau memang diancam oleh pelaku. Tapi, orangtua dapat melihat beberapa perubahan pada anak yang patut dicurigai:

  • Anak yang mengalami pelecehan seksual mungkin tiba-tiba menjadi tampak cemas, merasa tidak aman, atau tertekan.
  • Anak yang mengalami pelecehan seksual mungkin menampilkan perilaku yang tidak sesuai dengan usianya. Ini seperti mengisap jempol, atau bahkan sering ngompol di celana. Ia mungkin juga menjadi sulit tidur atau sering mimpi buruk.
  • Anak yang mengalami pelecehan seksual juga mungkin menampilkan beberapa perilaku seksual. Ia mungkin melakukan aktivitas seksual yang tidak pantas dengan boneka atau binatang, atau mungkin menuangkan peristiwa pelecehan yang dialaminya ke dalam sebuah gambar.
  • Anak yang mengalami pelecehan seksual mungkin cenderung menghindar atau ketakutan ketika ia berhadapan dengan pelaku.

Beberapa indikasi kemungkinan pelecehan seksual secara fisik tampak dengan gejala rasa sakit atau gatal di daerah genital, nyeri saat buang air kecil atau buang air besar, serta kemerahan, perdarahan, atau memar di daerah kelamin atau anus.

Sumber gambar : www.SehatFresh.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY