Penanganan Alergi Pada Pria

SehatFresh.com – Alergi dapat terjadi pada semua orang dengan segala rentang usia. Alergi bisa muncul pada usia anak-anak dan seringkali kondisinya berlanjut hingga dewasa. Alergi memiliki kecenderungan genetik sehingga kondisi ini seringkali menjadi kondisi yang diwariskan. Jika Anda memiliki anggota keluarga dekat yang memiliki alergi, Anda menjadi lebih berisiko terhadap pengembangan alergi.

Alergi merupakan bentuk reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat yang dianggap berbahaya walaupun sebenarnya zat tersebut tidak membahayakan. Reaksi alergi muncul akibat zat tersebut masuk baik karena termakan, terhirup, atau terserap melalui kulit. Zat pemicu alergi atau yang disebut juga sebagai alergen hanya berdampak pada orang yang memiliki alergi. Pada orang lain, zat tersebut tidak memicu timbulnya reaksi alergi seperti gatal, bersin, atau sesak napas.

Beberapa jenis substansi atau zat yang dapat menyebabkan reaksi alergi meliputi tungau debu, bulu hewan, obat-obatan, makanan tertentu, dan bahkan komstik. Pada pria, alergi seringkali muncul akibat tato, kondom bahkan spermanya sendiri.

  • Alergi tato

Beberapa orang alergi terhadap tinta tato. Pewarna yang digunakan untuk tato, terutama yang berwarna merah, hijau, kuning dan biru dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit, seperti gatal-gatal di area yang ditato. Bahkan, gejalnya bisa muncul dalam waktu bertahun-tahun setelah Anda memasang tato.

  • Alergi lateks

Kondom lateks adalah jenis kondom yang cukup efektif sebagai perlindungan dari penyakit menular seksual. Namun, kondom ini tidak sesederhana kelihatannya. Beberapa orang mengalami alergi akibat pemakaian kondom berbahan dasar lateks. Gejalanya bervariasi dalam hal tingkat keparahannya. Gejala ringannya adalah bersin-bersin, pilek, dan gatal-gatal. Gejala yang lebih parah meliputi mengi, bengkak, dan pusing. Dalam kasus tertentu, alergi lateks dapat menyebabkan anafilaksis, yaitu reaksi alergi parah yang mengancam jiwa. Sebagai alternatif, pria yang alergi kondom lateks dapat menggunakan kondom berbahan dasar poliuretan.

  • Alergi sperma

Percaya atau tidak, memang ada pria yang alergi terhadap spermanya sendiri. Kondisi semacam ini secara medis disebut post orgamic illness syndrome (POIS). Seperti halnya reaksi tubuh terhadap alergen pada umumnya, pria yang mengalami POIS akan langsung mengalami reaksi alergi setelah mengeluarkan cairan ejakulasi, seperti bersin-bersin, demam, gatal pada hidung, atau mata merah akibat iritasi.

Mengapa bisa? Produksi sperma pada testis terjadi dalam tubulus seminiferus yang memiliki lapisan pelindung untuk melindungi produksi sperma (spermatogenesis). Lapisan pelindung tersebut mencegah sperma yang sudah selesai diproduksi melakukan kontak langsung dengan sistem kekebalan tubuh. Jika terjadi kerusakan pada lapisan tersebut, maka sperma akan terbaca oleh sistem kekebalan tubuh sebagai zat asing. Inilah yang merangsang sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibodi yang pada akhirnya menimbulkan reaksi alergi.

Bagaimana penanganan alergi?

Jika Anda mengalami reaksi alergi, kenali apa saja yang menjadi pemicu alergi sehingga pencetusnya bisa dihindari dan reaksi alergi tidak berulang. Pada dasarnya, penanganan alergi disesuaikan dengan derajat keparahan gejalanya. Jika pgatal-gatal misalnya, Anda bisa mengoleskan lotion calamine untuk mengurangi ketidaknyamanan. Obat antihistamin yang dijual bebas juga cukup efektif untuk membantu mengatasi gejala alergi ringan. Ini seperti loratadine, diphenhydramine, fexofenadine, dan cetirizine.

Jika mengalami reaksi alergi, segera periksa ke dokter jika:

  • Gejala dari reaksi alergi tidak hilang lebih dari dua hari.
  • Gejala tak kunjung reda setelah mengonsumsi obat yang biasa dipakai.
  • Pernah mengalami reaksi alergi berat dan terulang lagi karena alergen yang sama.

Bila sebelumnya pernah mengalami reaksi alergi yang serius, Anda sebaiknya selalu membawa obat antihistamin dan suntikan epinefrin untuk jaga-jaga bila alergi Anda kambuh dan mengalami anafilaksis.

Sumber gambar : 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY