Penanganan Gangguan Avoidant Personality Disorder

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Seperti yang telah saya bahas di artikel sebelumnya mengenai Avoidant Personality Disorder atau di singkat dengan APD. Yaitu suatu gangguan ini bisa di sebebkan oleh beberapa hal dan berbagai macam faktor, bahkan para ahli masih sulit untuk mengetahui apa yang menyebabkan hal ini terjadi pada seseorang. Berdasarkan kacamata teori kognitif, maka kita akan menenmukan bahwa orang dengan APD cenderung memiliki tentang keberhargaan diri sendiri, hal ini di akibatkan dari pengalamannya di tolak pada masa awal kehidupan, terutama yang paling erat oleh keluarganya sendiri atau orang tuanya.

Para ahli psikologi kognitif mengatakan bahwa orang-orang yang mengembangkan gangguan kepribadian adalah disebabkan karena mereka keliru dalam mengartikan pengalaman yang mereka alami. Misal pada remaja-remaja dengan gangguan kepribadian antisosial (psychopath), mereka cenderung keliru dalam mengartikan perilaku orang lain dan mereka menganggap bahwa orang lain adalah sosok yang mengancam. Hal ini mungkin disebabkan karena pengalaman mereka dengan keluarga atau orang tua adalah pengalaman yang menyakitkan, sehingga mereka berpikir bahwa orang-orang juga untuk membuat mereka sakit.

Kalo begitu apa sih yang bisa dilakukan untuk mencegah seseorang mengembangkan gangguan APD? Langkah pertama yang bisa dilakukan untuk menghindari gangguan ini adalah dengan cara mencari informasi tentang ciri-ciri atau tanda-tanda awal munculnya APD. Apabila terdeteksi bahwa orang yang bersangkutan memiliki tanda-tanda awal dari gangguan ini, maka bisa dilakukan penanganan dengan cara membekali orang tersebut keterampilan sosial, dengan menggunakan kemampuan yang dirasa kompeten oleh orang tersebut untuk menjadi media bagi dia bersosialisasi.

Misalnya pelatihan keterampilan sosial dengan olahraga, kesenian, atau dengan musik, dan menggunakan kemampuan-kemampuan ini untuk berinteraksi dengan orang lain. Untuk orang-orang yang sudah terlanjur mengembangkan gangguan ini, terapi kognitif dan terapi perilaku atau dikenal dengan CBT, dianggap efektif untuk membantu orang yang bersangkutan mengenal dan mengetahui mana sikap dan perilaku yang sehat dan mana sikap dan perilaku yang tidak sehat. Serta berusaha mengembalikan kepercayaan dan menghilangkan pikiran-pikiran negative. Terapi kelompok juga terbukti bisa membantu individu untuk mengembangkan ketahanan mereka terhadap penolakan dari orang lain dan pemikiran-pemikiran negatif mengenai orang lain.

Untuk mencegah memburuknya gangguan menghindar (Avoidant Personality Disorder) dapat dilakukan dengan:

  1. Psikoterapi

Cognitive behavior therapy (CBT) dan Terapi kognitif membantu individu mengenali sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negative dan mengembalikannya secara positif. Terapi kognitif dan perilaku telah terbukti bermanfaat bagi orang-orang dengan gangguan kepribadian avoidant (Shea, 1993).

Terapi ini telah menyertakan paparan dalam pengaturan sosial, pelatihan keterampilan sosial dan tantangan untuk pikiran-pikiran otomatis negatif tentang situasi sosial. Orang yang menerima terapi ini menunjukkan peningkatan frekuensi dan berbagai kontak sosial, penurunan perilaku menghindar, dan meningkatkan kenyamanan dan kepuasan di dalam kegiatan sosial (Pretzer, 2004).

Terapi kelompok dapat membantu individu mengerti efek kepekaan mereka terhadap penolakan pada diri mereka sendiri dan orang lain.

  1. Farmakoterapi

Tidak ada obat yang telah diuji secara khusus oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk anak-anak dan remaja dengan gangguan kepribadian menghindar. Dalam laporan menyebutkan beberapa pasien tertolong oleh obat atenolol (Tenormin)untuk mengatasi hiperaktivitas saraf otonomik yang cenderung tinggi pada individu dengan gangguan menghindar ( avoidant personality disorder), khusunya jika mereka menghadapi situasi yang menakutkan. Alternatif perawatan lain yang lebih efektif adalah dengan kombinasi obat-obatan dan terapi.

Contoh kasus

Harold, seorang pegawai akuntansi 24 tahun, memiliki kencan pada banyak wanita, dan ia telah bertemu dengan mereka melalui perkenalan keluarga. Dia tidak pernah merasa cukup percaya diri untuk mendekati wanita sendirian. Mungkin itu adalah rasa malunya yang pertama pada Stacy. Stacy, seorang sekretaris 22 tahun, bekerja bersama Harold dan bertanya apakah dia mau menghabiskan beberapa waktu setelah bekerja. Pada awalnya Harold menolak, dengan beberapa alasan, tapi ketika Stacy bertanya lagi seminggu kemudian, Harold setuju.

Harold berpikir stacy pasti menyukainya karena stacy terus mengajaknya bertemu. Hubungan berkembang dengan cepat, dan segera mereka berkencan hampir setiap malam. Hubungan itu tegang dan kaku, harold menginterpretasi dari suara stacy seperti menyukainya, dari setiap kata bahkan gesturnya. Jika Stacy mengatakan bahwa dia tidak bisa bertemu karena kelelahan atau sakit, harold menganggap itu sebagai penolakan dia. setelah beberapa bulan, Stacy memutuskan ia tidak bisa lagi menerima Harold dan hubungan mereka berakhir. Harold menganggap stacy tidak pernah benar-benar peduli terhadapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here