Penanganan Hiperhidrosis pada Remaja

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Remaja sangat identik dengan aktivitas yang dapat menghasilkan keringat seperti mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, olahraga, selain melakukan hal-hal tersebut, ada banyak penyebab seseorang dapat memicu timbulnya keringat seperti suhu panas dan lembab, minuman /makanan panas atau pedas, emosi yang kuat seperti stres dan kecemasan, obesitas, dan lainnya.

Keringat yang keluar jika masih dalam batas wajar tentu Anda tidak perlu khawatir, namun bagaimana jika keringat yang keluar secara berlebihan? Tentu saja ini akan membuat Anda merasa tidak nyaman selain akan mengganggu aktivitas karena keringat yang selalu keluar ini juga dapat berdampak pada kehidupan sosial seperti minder dalam bergaul karena kondisi ini. Lalu bagaimana cara penanganannya?

Pada dasarnya berkeringat adalah mekanisme alami bagi tubuh untuk melakukan pendinginan, dan hal ini juga digunakan sebagai tanda bahwa tubuh dalam kondisi yang sehat. Tapi sebagian orang mengalami berkeringat dengan frekuensi lebih sering serta banyak. Kondisi ini dinamakan hiperhidrosis.

Hiperhidrosis adalah keluarnya keringat dalam jumlah lebih banyak untuk mendinginkan badan. Hiperhidrosis biasanya terjadi pada telapak tangan, telapak kaki dan ketiak. Anda tidak perlu cemas, karena bermacam cara dapat dilakukan untuk mengatasinya. Untuk kasus yang parah, tak ada cara lain yang lebih efektif kecuali dilakukan operasi. Berikut adalah beberapa penanganan yang dapat Anda lakukan untuk hiperhidrosis, yaitu :

  • Antiperspirant. Penggunaan antiperspirant yang mengandung alumunium klorida heksahidrat, glutaraldehid, formaldehid, dengan kadar tinggi (15%) dengan cara dioleskan di malam hari pada kulit yang kering, daerah berambut (ketiak), dan dicuci di pagi hari. Penutupan daerah yang diberikan antiperspirant dengan plastik juga dapat dilakukan untuk mengurangi keringat.
  • Teknik Iontophoresis. Teknik ini umum dilakukan pada hiperhidrosis telapak tangan dan kaki. Tangan diletakkan di dalam larutan berisi elektrolit dengan elektrik kadar rendah. Hal ini diduga untuk memblokir sementara kelenjar keringat. Pengobatan berlangsung sekitar 15 sampai 30 menit sehari sekali dalam satu minggu. Lontophoresis umumnya aman dan akhirnya terapi pemeliharaan dapat dilakukan di rumah. Teknik ini dapat efektif untuk kasus ringan.
  • Suntikan Botulinum tipe A. Suntikan ini diberikan di daerah ketiak, telapak tangan dan kaki untuk mengurangi jumlah keringat. Botulinum akan memblok pengeluaran dari neurotransmiter (asetilkolin) dan merupakan terapi yang efektif selama 4-8 bulan. Suntikan ulang perlu dilakukan lagi di kemudian hari.
  • Obat oral. Obat jenis glycopyrrolate dan propantheline bromide berfungsi mencegah terstimulasinya kelenjar keringat. Mereka memblok reseptor kolinergik. Beta bloker juga dapat digunakan untuk terapi keringat berlebih yang terjadi karena stres. Namun obat-obatan ini memiliki efek samping sehingga harus dipertimbangkan untung dan ruginya.
  • Operasi. Hal ini dilakukan pada hiperhidrosis berat yang gagal dengan pengobatan lainnya. Operasinya dinamakan Endoscopic Thoracic Sympathectomy (ETS). Operasi hanya dilakukan bila cara konvensional tidak berhasil.
  • Simpatektomi. Operasi untuk menghalangi atau memotong saraf yang mengontrol kelenjar keringat.
  • Antidepresan. Beberapa jenis obat untuk menangani depresi juga bisa dikonsumsi karena memiliki efek mengurangi keringat.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY