Penanganan Pada Ibu Hamil yang Terserang Cytomegalovirus (CMV)

blogspot.com

SehatFresh.com – Selama kehamilan, penyakit atau infeksi tertentu pada ibu hamil dapat ditularkan pada bayinya yang belum lahir. Salah satunya infeksi cytomegalovirus. Infeksi cytomegalovirus (CMV) adalah infeksi adalah infeksi virum yang umum, terutama di kalangan anak-anak. Sayangnya, tidak banyak yang familiar dengan infeksi virus ini. Termasuk ke dalam keluarga virus herpes, infeksi CMV lebih sering terjadi di kalangan anak usia di bawah usia dua tahun dan kalangan remaja. Anak-anak dan orang dewasa dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat biasanya tidak mengalami gejala serius atau bahkan tanpa gejala saat terinfeksi. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebabalan tubuh yang lemah, mereka mungkin mengalami demam, kelelahan, sakit tenggorokan, dan pembengkakan kelenjar.

Setelah seseorang terinfeksi, virus akan menetap seumur hidup dalam tubuh, tetapi biasanya tidak aktif. Ada fase di mana virus “tidur” dan kemudian aktif kembali. Infeksi CMV dibedakan menjadi CMV primer dan CMV berulang. Dalam kasus wanita hamil, infeksi primer dapat menyebabkan masalah yang serius pada kehamilan dan risiko penularannya pada janin juga tinggi. Ini meningkatkan risiko terjadinya masalah seperti keterbatasan mental, masalah penglihatan atau gangguan pendengaran pada janin. Sedangkan pada wanita yang mengalami infeksi berulang di mana ia pernah terinfeksi sebelumnya, risiko penularan pada janin terbilang rendah.

CMV ditularkan dari orang ke orang, dan ditemukan dalam urin, air liur, mukosa hidung, ASI, cairan vagina dan air mani dari orang yang terinfeksi. Meskipun tidak begitu menular, namun virus tersebut dilaporkan menyebar di rumah tangga dan di tempat penitipan anak. Oleh karenanya, anak-anak terutama balita menjadi rentan tertular dan tanpa disadari menularkannya pada orang dewasa di sekitarnya.

Pengujian untuk CMV tidak secara rutin direkomendasikan untuk semua wanita hamil atau untuk bayi yang baru lahir. Tes CMV lebih dianjurkan untuk wanita hamil yang menderita penyakit virus akut atau ketika USG ditemukan adanya kelainan janin. Namun, wanita hamil dan wanita yang merencanakan kehamilan ada baiknya mendiskusikan pengujian CMV dengan dokter, terutama bila mereka bekerja di tempat dengan risiko penularan tinggi seperti pusat penitipan anak, atau tinggal bersama anak kecil di rumah.

Belum ada obat untuk CMV, dan pengobatan untuk virus umumnya tidak diperlukan atau dianjurkan untuk anak-anak dan orang dewasa yang sehat. Ini karena kebanyakan kasus infeksi CMV tidak menimbulkan gejala. Tetapi, obat antivirus mungkin diperlukan untuk mengobati CMV kongenital atau CMV aktif pada seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Obat tersebut tidak dapat menyembuhkan infeksi, tetapi dapat memperlambat perkembangan penyakit serta menekan risiko timbulnya komplikasi serius.

Gansiklovir (Cymevene) adalah obat antivirus sering digunakan untuk mengobati CMV. Obat oral yang disebut valgansiklovir (Valcyte) juga sering digunakan. Namun, obat tersebut tidak dapat diresepkan selama kehamilan. Gansiklovir dapat menimbulkan beberapa efek samping, yang utamanya adalah penekanan sumsum tulang. Penekanan sumsum tulang dapat menyebabkan penurunan jumlah sel darah putih, yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri serius.

Saat ini, penelitian internasional sedang dilakukan guna menemukan metode terbaik untuk mengobati infeksi CMV selama kehamilan. Sejalan dengan itu, wanita hamil yang didiagnosis dengan infeksi CMV primer tidak boleh mengabaikan tindak lanjut dan konseling medis untuk menerima informasi terkini tentang risiko dan manfaat dari perawatan yang tersedia, yang saat ini sifatnya masih eksperimental.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY