Penanganan, Perawatan dan Pengobatan Retensio Plasenta

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Retensio plasenta merupakan suatu keadaan di mana setelah ibu melahirkan, plasenta tidak kunjung keluar. Secara normal, setelah bayi lahir, rahim masih tetap akan berkontraksi agar plasenta juga dapat dikeluarkan. Apabila tidak demikian, maka akan berbahaya bagi ibu karena dapat menyebabkan infeksi serta pendarahan berat, apalagi jika kondisi tersebut tidak segera ditangani.

Jika ibu mengalami gejala seperti plasenta yang tidak kunjung keluar 30 menit setelah kelahiran bayi, tali pusat yang terjulur bahkan dapat putus, pendarahan yang tak kunjung berhenti, dan kontraksi uterus yang kurang baik maka patut diwaspadai terjadinya kondisi retensio plasenta.

Apabila ibu mengalami gejala tersebut, dokter akan memastikan apakah memang benar telah terjadi retensio plasenta dengan melihat apakah ada sisa plasenta yang belum keluar atau semua plasenta tersebut telah keluar dari rahim ibu.

Setelah dipastikan bahwa ibu mengalami retensio plasenta, maka dokter harus segera melakukan penanganan. Penanganan tersebut bertujuan untuk mencegah komplikasi. Dokter dapat merekomendasikan suntikan sintometrin agar tubuh ibu dapat menghasilkan kontraksi yang lebih kuat sehingga plasenta dapat segera keluar. Jika setelah suntikan tersebut plasenta belum juga keluar maka dokter mungkin akan memberikan suntikan lain.

Dokter bisa juga memberikan obat- obatan yang dapat membuat tubuh ibu merasa rileks dengan tujuan yang sama yaitu agar plasenta bisa segera keluar dari rahim ibu.

Selain langkah tersebut di atas, dokter mungkin juga akan meminta ibu untuk buang air kecil karena bisa jadi plasenta tidak dapat keluar karena terhalang oleh kandung kemih. Dengan mengempiskan kantong kemih, diharapkan agar plasenta tidak terhalang dan dapat segera keluar dari jalan lahir. Menyusui juga bisa memicu kontraksi, dengan begitu diharapkan plasenta akan cepat keluar.

Setelah itu, dokter memastikan apakah sisa plasenta tersebut sudah semuanya keluar. Jika belum, maka dokter akan membersihkan sisa plasenta dari rahim dengan menggunakan tangan, prosedur ini dinamakan manual plasenta. Selama proses pembersihan plasenta tersebut, ibu akan diberikan anestesi agar mati rasa di bagian tertentu. Penanganan ini bisa menimbulkan risiko yaitu infeksi, oleh karena itu dokter harus sangat berhati- hati.

Memang benar dengan dilakukan penanganan manual plasenta, dokter dapat mengeluarkan sebagian besar plasenta dari rahim ibu, namun biasanya masih ditemukan sisa plasenta tersebut. Dokter biasanya akan melakukan prosedur kuret untuk membersihkan sisa plasenta.

Pembersihan plasenta secara maksimal dan menyeluruh memang harus dilakukan oleh dokter, sebab jika masih ada jaringan akibat plasenta yang hancur maka dapat membuat ibu mengalami infeksi post partum bahkan hal tersebut dapat memicu kanker.

Berikut di atas adalah penanganan dan pengobatan yang dilakukan oleh dokter jika ibu mengalami retensio plasenta. Semoga bermanfaat. (AYK)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY