Penanganan Tubuh Tidak Memproduksi Hormon atau Hipogonadisme

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Pada pria dewasa, hipogonadisme seringkali menjadi penyebab menurunnya gairah seksual. Hipogonadisme itu sendiri merupakan kondisi di mana tubuh tidak memproduksi hormon testosteron dalam jumlah yang cukup. Mendominasi hormon seks pria, testosteron berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan ciri maskulinitas, membentuk massa otot, dan mendukung berbagai fungsi reproduksi.

Pria dewasa dapat mengalami hipogonadisme karena adanya cedera atau infeksi, terutama pada organ reproduksi. Dilihat dari penyebabnya, hipogonadisme dibedakan menjadi:

  • Hipogonadisme primer, yang disebabkan oleh masalah pada testis. Testis masih menerima pesan untuk menghasilkan hormon dari otak, namun produksinya tidak memadai.
  • Hipogonadisme sekunder, yang disebabkan oleh masalah pada otak di mana hipotalamus tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Seiring dengan kadar testosteron yang semakin rendah, para pria mungkin mengalami gejala fisik maupun mental berikut ini:

  • Disfungsi ereksi
  • Penurunan massa otot
  • Payudara membesar (ginekomastia)
  • Penurunan gairah seks
  • Kelelahan
  • Sulit konsentrasi

Jika Anda belakangan ini merasakan gejala-gejala di atas, jangan ragu untuk memastikan apa itu hipogonadisme atau bukan dengan segera melakukan pemeriksaan ke pusat medis. Tak hanya menurunkan kualitas kehidupan seksual, hipogonadisme juga dapat menimbulkan komplikasi hilangnya massa otot, osteoporosis, dan kemandulan. Hipogonadisme umumnya diobati dengan terapi penggantian hormon testosteron, yang bisa diberikan melalui berbagai cara:

  • Injeksi. Suntik testosteron ke dalam otot biasanya dilakukan setiap 2 mingu.
  • Skin patch. Patch yang mengandung testosteron biasanya diterapkan pada kulit sekali di malam hari di beberapa area tubuh, seperti lengan atas, perut, paha, dan punggung.
  • Gel. Sekali sehari, Anda dapat mengoleskan gel bening yang mengandung testosteron ke kulit bahu, lengan atas, atau perut bagian bawah. Jangan mandi selama beberapa jam setelah gel dioleskan agar kulit dapat menyerapnya dengan baik.

Tujuan dari terapi penggantian hormon testosteron adalah untuk menormalkan kembali kadar hormon testosteron guna memulihkan libido, meningkatkan fungsi ereksi, meningkatkan suasana hati, meningkatkan stamina, serta meningkatkan kepadatan tulang.

Meski telah digunakan secara luas sebagai bagian dari hipogonadisme, terapi penggantian hormon testosteron membawa sejumlah risiko efek samping. Diantaranya memicu pertumbuhan tumor non-kanker pada prostat, memicu pertumbuhan sel kanker prostat yang telah ada, memicu penggumapalan darah pada pembuluh darah, dan memicu sleep apnea. Bahkan, studi terbaru melaporkan bahwa terapi penggantian hormon testosteron juga meningkatkan risiko penyakit jantung. Oleh karenanya, begitu terapi dimulai, penting untuk diperiksa secara berkala guna memantau dosis dan efek samping yang terjadi. (RFZ)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here