Pencegahan Fisura Ani pada Remaja

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Kurangnya asupan serat dalam pola makan remaja dapat memicu masalah pencernaan. Salah satunya, konstipasi (susah buang air besar). Dikatakan konstipasi bila frekuensi buang air besar kurang dari 3 kali per minggu. Bila dibiarkan, jaringan lembab (mukosa) yang melapisi anus bisa robek ketika feses yang semakin mengeras berusaha dikeluarkan. Secara medis, kondisi ini disebut fisura ani. Menyebabkan rasa sakit dan pendarahan, fisura ani umumnya ditangani dengan obat-obatan. Dalam kasus kronis, penanganannya harus dengan prosedur bedah.

Fisura ani yang tak kunjung sembuh dalam kurun waktu enam minggu dianggap sebagai kondisi kronis dan memerlukan perawatan yang lebih kompleks. Selain itu, robekan akibat fisura ani dapat meluas ke internal anal sphincter, yaitu cincin otot yang menjaga anus tetap tertutup. Operasi mungkin menjadi pilihan terbaik untuk mengobati fisura ani yang kronis. Tentunya, siapa pun tak ingin hal ini terjadi bukan?

Seperti kata pepatah lama, lebih baik mencegah daripada mengobati. Bila sering mengalami konstipasi, segera modifikasi gaya hidup sekarang juga. Meskipun fisura ani sembuh sendiri tanpa harus operasi, kemungkinan fisura ani berulang tetap tinggi bila gaya hidup tidak segera dibenahi. Untuk mencegah fisura ani, beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan adalah:

  • Meningkatkan konsumsi serat. Sudah bukan rahasia lagi kalau serat merupakan salah satu kunci kesehatan pencernaan. Terkait pencegahan konstipasi, serat membuat feses lebih lunak sehingga lebih mudah dikeluarkan. Karena sulit dicerna tubuh, serat akan menahan cairan yang ada di usus besar agar tidak terserap semua oleh dinding usus sehingga feses akan tetap lunak, dan buang air besar pun lebih teratur. Secara alami, asupan serat dapat diperoleh dari buah-buahan, sayuran, gandum dan kacang-kacangan.
  • Minum cairan dalam jumlah cukup setiap hari. Kurang asupan cairan tanpa disadari dapat memicu sembelit. Pasalnya, cairan membantu memudahkan pergerakan feses ketika melewati usus. Oleh karenanya, konsumsi 8-12 gelas air putih setip hari jangan diabaikan. Untuk mencegah dehidrasi, hindari minuman berkafein karena sifatnya diuretik sehingga akan banyak cairan tubuh yang terbuang akibat frekuensi buang air kecil yang berlebihan. Selain air putih, minum jus buah alami bisa menjadi pilihan yang sehat.
  • Olahraga teratur. Olahraga baik untuk kesehatan secara keseluruhan, tak terkecuali pencernaan. Rutin berolahraga 30 menit setiap hari selama 5 kali dalam seminggu dapat membantu untuk meningkatkan efisiensi proses pencernaan serta menjaga berat badan pada tingkat yang Selain itu, olahraga juga mengurangi stres, sehingga pada gilirannya mengurangi risiko munculnya gangguan pencernaan.
  • Tidak menahan keinginan buang air besar. Usahakan segera pergi ke toilet ketika tubuh mengisyaratkan waktunya buang air besar. Bila sering ditahan, kemungkinan besar Anda akan sering mengalami konstipasi. Hal ini karena limbah pencernaan akan kembali ke usus dan akan menyerap banyak air sehingga membuat feses menjadi lebih keras dan sulit dikeluarkan.
  • Makan teratur. Makan secara teratur memberikan waktu pada tubuh untuk mencerna makanan dengan baik. Selain itu, buang air besar juga akan lebih teratur. Bila rentan mengalami gangguan pencernaan seperti konstipasi, hindari makan besar sekaligus. Lebih baik makan lebih sedikit tapi porsinya lebih sering. Bila terbiasa makan besar 3 kali, bisa dibagi menjadi waktu makan 6 kali sehari.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY