Pencegahan Milia pada Bayi

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Bagi Anda yang memiliki bayi atau baru saja melahirkan tentunya akan khawatir terhadap kesehatan bayi tersebut, terlebih jika terjadi gangguan yang menyebabkan bayi menjadi tidak sehat atau memperngaruhi kondisi tubuhnya. Karena bayi terlebih bayi baru lahir lebih sensitif terhadap lingkungan, menjaga dia agar tetap sehat dan terhindar dari segala bentuk penyakit adalah kewajiban kita sebagai orang tuanya.

Namun bagaimana jika gangguan tidak dapat dihindari dan menyerang bayi Anda, salah satu gangguan yang dapat menyerang bayi adalah milia. Sebagai orangtua kita sebaiknya tidak terlalu khawatir dan kaget jika terjadi suatu gangguan khususnya milia, sebagai orangtua kita harus lebih tenang dan segera menghubungi atau melakukan penanganan pada gangguan tersebut.

Kista milium atau milia merupakan benjolan kecil putih yang biasanya muncul pada wajah di area hidung dan pipi. Kista ini sering ditemukan secara kelompok, sehingga sering disebut milia. Milia muncul ketika keratin terperangkap di bawah permukaan kulit. Keratin merupakan protein yang biasanya ditemukan dalam jaringan kulit, rambut, dan sel-sel kuku.

Milia dapat terjadi pada siapa pun dan hampir di semua usia, tapi biasanya paling sering terjadi pada bayi baru lahir. Milia umumnya ditemukan pada wajah, kelopak mata, dan pipi. Milia sering dianggap sebagai kondisi yang disebut ‘Epstein pearls’, dimana muncul kista tidak berbahaya yang berwarna putih-kuning pada gusi dan mulut bayi baru lahir dan mulut. Kebanyak orang sering salah mengartikan milia sebagai jerawat bayi, sedangkan pada faktanya bahwa milia berbeda dengan jerawat.

Penyebab milia pada bayi baru lahir sampai saat ini tidak diketahui. Milia sering dianggap keliru sebagai jerawat bayi yang dipicu oleh hormon dari ibu. Tidak seperti jerawat bayi, milia tidak menyebabkan peradangan (pembengkakan). Sebuah penelitian mengungkapkan  bahwa bayi yang mengalami milia, sejak lahir sudah memiliki milia. Sedangkan jerawat bayi baru akan muncul beberapa minggu setelah kelahiran bayi.

Milia berbentuk benjolan kecil yang berwarna putih atau kuning. Milia umumnya tidak menimbulkan rasa gatal atau sakit. Namun, terkadang milia dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi beberapa orang.

Tisu kasar atau serat pakaian yang kasar dapat menyebabkan milia menjadi teriritasi dan merah. Bagi Anda para orang tua penting untuk mengtahui bahwa milia dapat dibedakan kedalam beberapa jenis, milia diklasifikasikan berdasarkan usia dimana milia muncul atau cedera yang menyebabkan milia berkembang antara lain:

  • Neonatal Milia. Milia ini muncul pada bayi baru lahir dan akan sembuh dalam beberapa minggu. Milia umumnya akan terlihat pada wajah, kulit kepala, dan tubuh bagian atas. Menurut Stanford School of Medicine, milia terjadi pada sekitar 40 persen dari bayi yang baru lahir.
  • Juvenile Milia. Kondisi ini disebabkan oleh kelainan genetik, termasuk nevoid basal cell carsinoma syndrome, Pachyonychia congenita, Sindrom Gardner, dan Sindrom Bazex-Dupre-Christol.
  • Milia primer pada Anak dan Dewasa. Kondisi ini disebabkan oleh keratin terperangkap di bawah permukaan kulit. Kista atau milia dapat ditemukan di sekitar kelopak mata, dahi, dan pada alat kelamin. Milia primer mungkin hilang dalam beberapa minggu atau dapat berlangsung selama beberapa bulan.
  • Milia en Plaque. Kondisi ini umumnya terkait dengan gangguan kulit genetik atau autoimun, seperti lupus diskoid atau lichen planus. Milia en plaque dapat muncul pada kelopak mata, telinga, pipi, atau rahang. Diameter kista bisa mencapai beberapa sentimeter. Kondisi ini terutama terlihat pada wanita paruh baya, tetapi bisa juga terjadi pada orang dewasa dan anak-anak dari semua jenis kelamin dan usia.
  • Multiple Eruptive Milia. Rasa gatal sering terjadi pada jenis milia ini, umumnya muncul di area wajah, lengan atas, dan dada. Milia ini bisa terjadi selama rentang waktu, mulai dari beberapa minggu hingga beberapa bulan.
  • Traumatic Milia. Milia ini muncul di area dimana terdapat cedera pada kulit. Contohnya pada luka bakar dan ruam yang parah. Milia menjadi teriritasi, membuatnya berwarna kemerahan di bagian tepinya dan putih di tengah.

Pengobatan atau perawatan khusus tidak diperlukan untuk mengatasi milia pada bayi karena biasanya akan hilang dalam beberapa minggu. Namun ada beberapa cara yang efektif untuk mengatasi milia antara lain:

Beberapa perawatan yang bisa dilakukan termasuk diantaranya:

  • Deroofing, atau menggunakan jarum steril untuk mengeluarkan isi milia.
  • Obat-obatan, seperti retinoid topikal (krim yang mengandung senyawa vitamin A).
  • Chemical peeling.
  • Ablasi laser, perawatan dengan menggunakan laser kecil dan terfokus untuk menghancurkan milia.
  • Diathermy, perawatan menggunakan panas yang ekstrim untuk menghancurkan milia.
  • Penghancuran kuretase, perawatan yang melibatkan bedah Scraping dan kauterisasi untuk menghancurkan milia.
  • Cryotherapy, perawatan yang melibatkan pembekuan. Metode ini merupakan yang paling sering digunakan untuk menghancurkan milia.

Pada bayi biasanya milia akan hilang dengan sendirinya setelah beberapa minggu. Untuk mencegah terjadinya milia pada bayi, sebaiknya para orang tua mengindari penggunaan tisu kasar dan lebih memperhatikan bahan-bahan yang digunakan untuk merwat bayi Anda, karena bahan-bahan yang terkadnung dalam produk perawatan bayi bisa jadi menjadi salah satu pemicu munculnya milia pada bayi Anda. Selain itu memilih pakaian yang sesuai untuk bayi dari mulai bahan hingga ukuran, pilihlah pakaian yang memiliki bahan sesuai dan aman bagi bayi serta ukuran yang pas pada bayi Anda, serta hindarkan bayi Anda untuk terlalu lama terkena paparan sinar matahari langsung.

Namun jika milia atau kondisi milia menyababkan gangguan pada bayi ada baiknya jika Anda memeriksakan ke pada dokte ahli untuk melakukan penanganan lebih lanjut.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY