Pendarahan Pada Ibu Hamil

SehatFresh.com – Siapa yang tidak cemas ketika ibu hamil mengalami pendarahan? Pendarahan saat hamil memang seringkali membuat panik, karena identik dengan keguguran. Tapi, pendarahan tidak selalu berarti keguguran. Pendarahan dapat terjadi pada setiap usia kehamilan, dan ada berbagai hal yang menyebabkannya.

Trimester pertama

  • Pendarahan implantasi: Selama kehamilan, pendarahan juga dapat terjadi karena implantasi telur yang dibuahi di dalam rahim. Pendarahan ini disebut pendarahan implantasi dan biasanya hanya berupa bercak ringan. Ini biasanya terjadi pada hari ke delapan hingga 12 setelah konsepsi.
  • Masalah serviks: Pendarahan bisa terjadi karena infeksi pada serviks, peradangan pada serviks, atau karena pertumbuhan serviks itu sendiri. Selama kehamilan, terjadi peningkatan aliran darah ke serviks karena perubahan hormon. Ini dapat menyebabkan keluarnya bercak darah ringan terutama setelahmelakukan hubungan seks.
  • Keguguran: Seringkali, keguguran terjadi sebelum kehamilan mencapai usia 12 minggu. Tanda utamanya ialah pendarahan dan seringkali disertai gumpalan jaringan.
  • Kehamilan ektopik: Kehamilan ektopik terjadi ketika telur yang dibuahi melekat di tempat lain, bukannya di rongga utama rahim. Seringkali, telur melekat di tuba fallopi. Pendarahan vagina ringan dengan nyeri perut atau panggul merupakan tanda peringatan awal kehamilan ektopik.
  • Kehamilan molar: Meskipun jarang terjadi, pendarahan saat hamil muda juga bisa menjadi pertanda kehamilan molar. Kehamilan molar terjadi ketika sel telur yang dibuahi sperma tidak berkembang menjadi janin, melainkan terjadi pertumbuhan jaringan hasil pembuahan yang tidak normal di dalam rahim tanpa disertai adanya janin. Pendarahan, mual dan muntah parah adalah tanda-tanda utama kondisi ini.

Trimester kedua dan ketiga

  • Keguguran: Secara medis, keguguran didefinisikan sebagai hilangnya kehamilan secara spontan sebelum usia kehamilan 20 minggu. Keluarnya darah pada masa 20 minggu awal kehamilan cukup besar kemungkinannya menandakan keguguran.
  • Serviks inkompeten: Selama kehamilan, bayi semakin bertumbuh dan semakin menekan serviks (leher rahim). Tekanan ini dapat menyebabkan serviks membuka sebelum bayi siap dilahirkan. Kondisi ini disebut serviks inkompeten. Jika memiliki serviks inkompeten, wanita hamil rentan mengalami ketuban pecah dini, kelahiran prematur, dan bahkan keguguran.
  • Plasenta previa: Pada plasenta previa, letak plasenta menjadi lebih rendah di dalam rahim sebagian atau seluruhnya menutupi saluran rahim. Pendarahan mungkin terjadi tanpa rasa sakit.
  • Abrupsi plasenta: Abrupsi plasenta terjadi ketika plasenta terpisah dari dinding rahim sebelum bayi lahir. Seringkali, kondisi ini terjadi beberapa minggu sebelum kelahiran. Pendarahan, nyeri perut, dan nyeri punggung merupakan beberapa tandanya.
  • Kelahiran prematur: Di minggu-minggu akhir kehamilan, pendarahan vagina dapat menjadi tanda persalinan. Hingga beberapa minggu sebelum persalinan dimulai, akan keluar gumpalan dari campuran darah dan lendir. Jika terjadi sebelum waktunya terutama juga disertai kontraksi, itu merupakan tanda persalinan prematur dan memerlukan penanganan dokter dengan segera.

Berikut ini waktu-waktu yang harus Anda perhatikan untuk pergi ke dokter :

  • Pada trimester pertama, segera pergi ke dokter bila mengalami pendarahan yang berlangsung sepanjang hari, atau mengalami pendarahan ringan disertai nyeri atau kram perut, dan demam.
  • Pada trimester kedua, segera pergi ke dokter bila mengalami pendarahan ringan yang hilang dalam beberapa jam, atau mengalami pendarahan yang berlangsung lebih dari satu hari, atau mengalami pendarahan yang disertai nyeri atau kram perut, dan demam.

Pada trimester ketiga, segera pergi ke dokter bila mengalami pendarahan baik itu ringan atau parah pada usia kehamilan sebelum 37 minggu, atau mengalami pendarahan yang disertai nyeri perut.

Sumber gambar : www.SehatFresh.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY