Pendidikan Seks Sejak Dini

SehatFresh.com – Pendidikan seks hingga saat ini masih dianggap sebagai sesuatu yang “canggung” oleh beberapa orang tua. Padahal, pendidikan seks itu penting diberikan sejak dini pada anak-anak. Anak-anak dan remaja sangat rentan terhadap pemahaman seks yang salah. Maka informasi mengenai seks sebaiknya disampaikan oleh para orangtua dengan pemahaman yang benar. Melalui pendidikan seks sejak dini, Anda sebagai orangtua telah membantu anak mengembangkan perilaku seks yang sehat serta menanamkan pemahaman seks yang bertanggung jawab.

Pendidikan seks sifatnya harus berkesinambungan. Membicarakan seks dengan anak harus disesuaikan dengan tahapan pemahaman berdasarkan usianya. Ini karena pembahasan seks itu kompleks, bukan hanya seputar hubungan seksual antara pria dan wanita saja.

  • Usia nol sampai tiga tahun

Pendidikan seks bisa dimulai dengan mengenalkan bagian tubuh, termasuk pula alat kelamin. Hingga usia tiga tahun, anak diharapkan bisa mengetahui perbedaan antara laki-laki dan perempuan,  anak juga bisa mengetahui apakah seseorang itu adalah laki-laki atau perempuan. Orangtua juga sebaiknya membiasakan anak berpakaian dengan benar sesuai jenis kelaminnya, agar tidak terjadi kebingungan identitas seksual.

  • Usia empat sampai lima tahun

Di usia empat sampai lima tahun, anak biasanya mulai bertanya dari mana bayi berasal. Orangtua bisa menjawabnya secara sederhana sesuai dengan usia anak. Misalnya, bila anak bertanya darimana ia berasal, ibu bisa menjawabnya dengan sederhana “kamu berasal dari rahim dalam perut ibu”. Di rentang usia ini, anak juga perlu diberitahu bagian tubuh mana saja yang boleh disentuh orang lain dan bagian mana yang tidak boleh. Sebaiknya, orangtua juga tidak memaksa anak untuk memeluk atau mencium orang lain jika memang anak tidak menginginkannya. Ini bertujuan agar anak dapat belajar menyatakan penolakannya, mengingat saat ini banyak pelaku pelecehan seksual yang merupakan kerabat dekat.

  • Usia enam sampai sembilan tahun

Anak-anak harus memiliki pemahaman dasar bahwa beberapa orang heteroseksual, homoseksual, atau biseksual. Beritahu anak agar melakukan penolakan jika diperlakukan tidak wajar seperti ketika disentuh alat kelaminnya oleh orang lain. Anak juga harus diajari bagaimana cara menjaga kebesihan diri termasuk alat kelamin, mengingat mereka semakin mendekati pubertas.

  • Usia sembilan sampai 12 tahun

Anak mulai memasuki masa puber. Di rentang usia sembilan sampai 12 tahun, sudah saatnya orangtua menerangkan informasi tentang menstruasi, mimpi basah, serta perubahan-perubahan fisik yang terjadi ketika anak beralih menjadi remaja. Mereka juga perlu mulai diberi pemahaman tentang gaya pacaran, bahaya jika melakukan seks bebas, dan lain sebagainya.

  • Usia 13 sampai 18 tahun

Di usia 13 sampai 18 tahun, orangtua perlu berkomunikasi lebih intensif dengan anak remajanya, tetapi dengan tetap membuatnya merasa aman dan nyaman sehingga tidak ada sesuatu yang disembunyikan. Anak mulai tertarik dengan lawan jenis dan dorongan seksual juga meningkat di rentang usia ini. Tanamkan pada anak pemahaman yang lebih spesfisik mengenai konsekuensi bila mereka melakukan seks bebas.

Studi menunjukkan semakin anak melihat gambar seksual di media, semakin besar kemungkinan mereka akan terlibat dalam perilaku seksual di usia terlalu dini. Anak-anak yang menerima pendidikan seks di rumah kecil kemungkinannya untuk terlibat dalam aktivitas seksual berisiko. Maka orang tua tidak perlu canggung ketika membicarakan seks. Ingatlah, anak perlu mendapatkan informasi yang tepat, yaitu dari orangtuanya. Keterbukaan orangtua dalam menyampaikan informasi merupakan hal penting dalam pendidikan seks. Ketika anak sudah bertanya hal berbau seks, ini merupakan pintu gerbang orang tua untuk memberikan pemahaman tentang seks pada anak mereka.

Sumber gambar : www.wartabuana.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY