Pengaruh Lubrikasi Saat Berhubungan

SehatFresh.com – Setelah mendapatkan foreplay yang cukup, wanita akan terangsang dan siap untuk penetrasi. Ini ditandai dengan keluarnya cairan lubrikasi (pelumas) yang membasahi area vagina. Bagi wanita, lubrikasi vagina adalah bagian penting dari gairah seksual. Lubrikasi menyiapkan vagina untuk penetrasi, sehingga memudahkan penis untuk masuk dan mengurangi risiko gesekan atau iritasi.

Vagina merupakan organ yang sangat sensitif sehingga rentan mengalami iritasi dan luka. Nyeri selama hubungan seksual seringkali disebabkan oleh lubrikasi yang tidak memadai. Salah satu penyebab sulitnya mencapai orgasme juga karena kurangnya lubrikasi. Menurut Debby Herbenick, PhD, penulis Because It Feels Good: A Woman’s Guide to Sexual Pleasure and Satisfaction, lubrikasi membantu mengurangi rasa sakit saat hubungan intim dan meningkatkan sensasi kenikmatan seksual.

Studi tahun 2013 yang diterbitkan dalam “Journal of Sexual Medicine” melaporkan bahwa para wanita lebih menyukasi seks yang lebih “basah”. Studi tersebut melibatkan 2451 wanita yang berusia antara 18-68 tahun. Hasilnya, sembilan dari 10 wanita merasa bahwa seks menjadi lebih nyaman dan menyenangkan ketika ada lubrikasi.

Temuan lain dari Indiana University menunjukkan bahwa lubrikasi vagina membantu memudahkan wanita mencapai orgasme. Hampir 50% pria dan wanita yang menggunakan pelumas ternyata menjadi lebih nyaman dan semakin mudah untuk meraih orgasme. Pasalnya, lubrikasi memberikan sensasi kenikmatan dan kenyamanan seksual yang lebih sehingga lebih memungkinkan wanita merasakan nikmatnya orgasme.

Vagina secara alami mengeluarkan cairan pelumas jika mendapat cukup rangsangan seksual. Banyak ahli seksologi yang menyarankan setiap pasangan agar melakukan foreplay yang cukup guna menghasilkan lubrikasi yang memadai. Seringkali, foreplay yang lebih lama adalah yang dibutuhkan bagi seorang wanita agar menghasilkan pelumasan maksimal sehingga ia lebih bisa menikmati hubungan intim dengan pasangannya.

Kelenjar skene di sisi vulva akan mengeluarkan pelumas cair dan licin saat terangsang secara seksual. Jumlah dan ketersediaan lubrikasi tergantung pada kadar hormon seperti estrogen dan progesteron. Banyak hal yang dapat menyebabkan kekeringan vagina atau lubrikasi tidak memadai. Secara genetik, beberapa wanita menghasilkan lebih sedikit hormon progesteron dan estrogen. Merokok, anoreksia, stres, ketidakseimbangan hormon, usia, menopause, penggunaan obat resep tertentu dan perubahan pola makan bisa berpengaruh pada lubrikasi. Kondisi medis lain yang lebih kompleks yang menyebabkan kurangnya hormon yang berpengaruh pada lubrikasi termasuk kegagalan ovarium prematur, sindrom ovarium polikistik, dan masalah hipotalamus.

Jika pelumas alami tidak memadai, tidak ada salahnya menggunakan pelumas buatan yang bisa dibeli di apotek. Sebaiknya untuk menggunakan cairan lubrikasi yang berbahan dasar air. Pelumas berbasis air lebih mudah diserap oleh dan kurang mengiritasi jaringan halus di dalam dan di sekitar alat kelamin.

Ada sejumlah pelumas buatan yang perlu diwaspadai, salah satunya pelumas mengandung gliserin, yang merupakan turunan gula. Pelumas yang memiliki rasa atau aroma tertentu biasanya mengandung gliserin. Bahan ini dikhawatirkan bisa meningkatkan infeksi jamur pada alat kelamin wanita.

Bagi wanita yang telah mengalami penurunan lubrikasi vagina, ada hal-hal tertentu yang perlu diperhatikan agar kondisi tidak semakin memburuk. Minum banyak air secara alami akan meningkatkan pelumasan vagina. Seiring dengan itu, merokok, asupan kafein dan alkohol juga harus benar-benar dihindari karena sifatnya menguras cairan tubuh sehingga juga berefek pada saluran vagina. Jika kekeringan vagina memengaruhi gaya hidup, khususnya kehidupan seks Anda dan hubungan dengan pasangan, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Sumber gambar : www.sehatfresh.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY