Pengaruh Media Sosial Bagi Remaja dalam Memaknai Dunianya

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Media sosial (medsos) bukan hal asing lagi dalam kehidupan masyarakat, terlebih yang tinggal di perkotaan dengan akses internet yang relatif cukup mudah. Lebih khusus, medsos digandrungi oleh sebagian remaja. Lantas, apakah merebaknya pemanfaatan medsos telah mengubah cara pandang remaja terhadap sekelilingnya?

Jika media konvensional menggunakan media cetak dan media broadcast, maka medsos menggunakan internet atau media baru. Medsos mengajak siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi dengan memberi feedback, komentar serta membagikan informasi dalam waktu yang cepat dan tak terbatas.

Kalangan remaja yang mempunyai medsos biasanya mem-posting tentang kegiatan pribadinya, ‘curhat’ serta foto-foto bersama teman-temannya. Semakin aktif seorang remaja di medsos, maka ia semakin dianggap keren dan gaul. Sebaliknya, kalangan remaja yang tidak mempunyai medsos biasanya dianggap ‘kuper’, kuno, atau ketinggalan zaman.

Melansir laman KidsHealth, sekitar 90% remaja menggunakan beberapa format medsos. Sebanyak 75% di antaranya memiliki profil pribadi di medsos. Angka ini akan terus bertambah mengingat semakin masifnya kemajuan teknologi informasi.

Memang, ada banyak informasi bermanfaat yang bisa diperoleh remaja dari medsos. Tetapi, juga banyak potensi membahayakan. Konten pornografi, kekerasan, SARA hingga tindakan asusila lainnya mengintai pengguna medsos, termasuk remaja.

Mengingat sifat remaja yang belum stabil dan mudah terbawa arus, mereka terkadang memilih jalan ‘menyimpang’ di dunia maya. Menjadi hater salah satunya. Belum lagi bagi yang gemar menyebarkan berita hoax tanpa mencari klarifikasinya terlebih dahulu.

Dengan kata lain, sebagian remaja merasa memiliki kebebasan dalam memanfaatkan medsos. Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi., dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia menguraikan salah satu pemicu remaja (merasa) bebas bertindak di medsos.

“Remaja belum punya kemampuan penuh untuk mengambil tindakan tepat dengan pertimbangan matang antara rasio dan emosi. Mereka masih lebih banyak didominasi emosi. Jadi ketika emosi terpancing, reaksi mereka lebih emosional, juga tidak memperhitungkan akibatnya nanti atau akibatnya pada orang lain,” urainya.

Kondisi itu ditambah belum matangnya pemahaman, medsos merupakan ranah publik.

“Mereka tidak menyadari, sosmed merupakan ranah publik di mana ada konsekuensinya pada orang lain, seperti menyakiti orang lain,” tambah Vera.

Tak hanya itu, dalam sebuah penelitian dinyatakan, medsos berhubungan dengan kepribadian introvert. Semakin introvert seseorang, maka dia akan semakin aktif di medsos sebagai pelampiasan.

Medsos menghapus batasan-batasan dalam bersosialisasi dan berkomunikasi. Dalam medsos, tidak ada batasan ruang dan waktu. Di satu sisi, memang medsos bisa berdampak positif, seperti berbagi atau mendapat ilmu lebih cepat. Di sisi lain, berbagai dampak buruknya adalah keniscayaan.

Bak dua sisi pada sekeping uang logam. Seorang remaja bisa memandang dunia sekelilingnya yang dominan ‘terbingkai’ dalam medsos. Atau, ia bisa menyaring konten-konten medsos dengan berbagai nilai lainnya, seperti agama, budaya, dan keluarga. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here