Pengaruh Puasa Terhadap Pengendalian Emosi Remaja

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Ivan Illich, seorang tokoh humanis pernah mengungkapkan, masalah utama masyarakat moderen adalah stres kehidupan, ketidakpuasan, ketidakbahagiaan, kerakusan, kecemasan terhadap nilai-nilai, maraknya penyimpangan, kelainan jiwa dan kehilangan kontrol diri. Penyakit ini merupakan tantangan bagi generasi masa depan suatu negara. Generasi masa depan ini sering dikaitkan dengan remaja.

Transisi dari masa anak-anak menuju dewasa sering membuat seorang remaja dalam kondisi emosi yang tidak stabil. Emosi yang terguncang pada remaja bisa membuatnya kehilangan kontrol diri.

Saat kondisi psikologis rentan (ilabilitas) demikian ini, berbagai risiko buruk seringkali mengikutinya. Psikiater Prof. Dr. dr. H. Dadang Hawari menyatakan, “Banyak orang yang terpukau dengan moderenisasi. Mereka menyangka, dengan moderenisasi itu serta-merta akan membawa kesejahteraan. Mereka lupa bahwa di balik moderenisasi yang serba gemerlap memukau itu ada gejala yang dinamakan agony of modernization atau azab sengsara karena moderenisasi”.

Nabi Muhammad SAW sudah lama mengingatkan, orang yang menjadikan (mendewakan) dunia sebagai cita-cita terbesarnya, ia akan terpisah (teralinasi) dari Allah SWT. Kemudian, ditetapkan (ditimpakan azab) di hati orang itu empat perkara. Keempat perkara itu adalah kegelisahan tanpa henti, kesibukan yang tak kunjung berakhir, rasa kurang yang tidak pernah cukup, dan angan-angan yang tidak pernah sampai (terkabul).

Menurut Psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi. M.Si., remaja dalam rentang umur 14–16 tahun masih belum dapat mengendalikan emosinya dengan baik dan lebih banyak meledak-ledak mengungkapkan emosinya. Saat masa labil seperti ini, seorang remaja dianjurkan perlu banyak sharing dengan orangtua atau teman agar dapat berpikir dampak dari apa yang akan diperbuatnya.

“Cara yang mudah dalam mengatur emosi adalah dengan menahan diri, tarik nafas, jangan langsung bicara saat emosi, dan memikirkan apa yang harus dilakukan dalam kondisi seperti ini. Kita juga bisa bertanya kepada orang lain, sebagai pembanding antara emosi kita dengan saran dari orang lain sebelum melakukan sesuatu,” ungkap Anna.

Nah, berpuasa dapat mengendalikan emosi remaja. Manusia yang berpuasa dikondisikan untuk mengonstruksi hubungan atau kedekatannya dengan Allah SWT. Manusia (remaja) yang berpuasa otomatis harus menuntut dirinya untuk menjernihkan atau mengendalikan emosi, ambisi, dan nafsu yang berlebihan.

Dalam Islam, masa remaja berarti mulainya masa akil baligh. Keadaan fisik, kognitif (pemikiran) dan psikososial (emosi dan kepribadian) remaja berbeda dengan keadaan pada tahap perkembangan lain. Karena sudah baligh, mereka menanggung kewajiban beribadah wajib. Kewajiban menunaikan ibadah wajib ini ditunjang oleh perubahan raga yang makin menguat dan membesar, sekresi hormon baru, dan perubahan taraf berpikir mereka.

Berpuasa di bulan Ramadhan dapat mengendalikan kondisi emosi remaja. Hal ini karena berpuasa memiliki konsep menahan diri. Seorang remaja yang telah tertanam konsep ini di benaknya secara bertahap akan mampu menahan emosinya dari dampak-dampak yang cenderung bernilai negatif. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here