Pengaruh Puasa untuk Psikologi Remaja

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami perkembangan secara pesat baik dari segi kematangan fisik, sosial dan emosi. Fase ini dialami ketika seseorang memasuki usia 12-22 tahun. Fase perkembangan psikologi remaja dibagi menjadi tiga rentang waktu, yaitu masa remaja awal (12-15 tahun), masa remaja pertengahan (15-18 tahun), dan masa remaja akhir (18-21 tahun).

Setiap individu memiliki perkembangan tumbuh kembangnya masing-masing. Perkembangan psikologis pada masa remaja sebaiknya perlu diberikan perhatian lebih. Pada masa ini seseorang memasuki fase pencarian jati diri dan memiliki emosi lebih tinggi serta meledak-ledak. Luapan emosi atau perasaan ini harus tersalurkan agar tidak memberikan dampak negatif pada anak yang memasuki usia remaja.

Keadaan emosi yang relatif lebih tinggi atau intens pada saat usia remaja tidak bisa dibiarkan saja. Keadaan ini harus dikendalikan oleh para orang tua agar sang anak tidak melakukan pelarian kepada hal-hal yang negatif seperti obat-obatan terlarang.

Apa hubungannya puasa dengan psikologi remaja?

Puasa merupakan bentuk perintah agama menahan diri dari makan, minum, sex dan emosional. Perintah ini merupakan bentuk dari pengendalian diri dari keinginan biologis tubuh individu. Dalam sudut pandang psikologi, indikasi utama kehidupan rohani atau kejiwaan seseorang bergantung pada kemampuan pengendalian dirinya. Kemampuan pengendalian diri yang baik dapat mencegah seseorang dari gangguan kejiwaan ringan maupun berat. Apabila seseorang tidak mampu mengendalikan dirinya, hal ini bisa berdampak buruk bagi dirinya ataupun lingkungan sosial sekitar.

Banyak penelitian membuktikan bahwa puasa banyak memberikan manfaat bagi kesehatan fisik dan psikis. Dengan adanya kemampuan menahan diri atau self-controlĀ­ emosi seseorang cenderung lebih terjaga dan stabil. Beberapa perilaku yang sering terjadi di fase remaja seperti mudah meledak, bertengkar, dan pemalas dapat diredam pada saat berpuasa karena adanya mekanisme pertahanan diri.

Saat berpuasa seseorang dituntut untuk lebih sabar, jujur, dan disiplin dalam beribadah. Hal ini mampu meningkatkan rasa empati seseorang terhadap orang lain. Kemampuan menahan diri pada seseorang yang berpuasa menghindarkan individu melakukan kegiatan yang merugikan orang lain seperti kriminalitas, kejahatan seksual, pencurian dan lain-lain.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY