Pengertian dan Cara Cegah Kematian Akibat Rabies

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Rabies merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Rabies virus (RV) yang menyerang sistem saraf pusat (SSP) pada mamalia. Rabies biasanya menyerang hewan liar seperti kelelawar, rubah, sigung, dan rakun; tetapi juga dapat menyerang hewan domestik dan manusia. Menurut data WHO, hampir 99% penularan rabies pada manusia ditransmisikan melalui gigitan anjing peliharaan. Itulah sebabnya penyakit ini sering disebut awam sebagai penyakit “anjing gila”. Rabies termasuk penyakit global yang terjadi di semua benua, tetapi 95% kematian manusia akibat penyakit ini terjadi di Asia dan Afrika.

Gejala klinis penyakit rabies dibagi dalam 5 tahap: periode inkubasi (rata-rata 2 minggu-3 bulan), prodormal (2-10 hari), fase neurologis akut (2-7 hari), koma (0-14 hari), dan kematian. Gejala awal rabies adalah demam disertai nyeri, gatal, atau rasa terbakar pada luka gigitan. Selanjutnya ada 2 bentuk gejala neurologis yang dapat terjadi, yaitu furious rabies dan paralytic rabies. Gejala furious rabies pada manusia adalah hiperaktifitas, insomnia, kecemasan, halusinasi, hipersalivasi, hidrofobia (takut air), dan kadang aerofobia (takut terbang). Setelah beberapa hari, pasien meninggal karena henti jantung. Paralytic rabies hanya terjadi 30% pada pasien manusia, lebih banyak pada hewan yang terinfeksi. Gejala paralytic rabies lebih “tenang” daripada furious rabies; dimulai kelumpuhan otot secara gradual dimulai dari area luka gigitan, lalu koma, dan berujung pada kematian.

Penatalaksanaan segera setelah pajanan terhadap RV dapat mencegah munculnya gejala dan mencegah kematian. Prosedur ini disebut post-exposure prophylaxis (PEP). Terdapat 3 kategori untuk rekomendasi prosedur PEP. Kategori I adalah jika bersentuhan atau memberi makan hewan suspek terinfeksi, atau jika kulit yang intact dijilat hewan suspek terinfeksi. Pada kategori ini tidak diperlukan PEP. Kategori II adalah jika kulit sudah tergores atau cakaran tanpa perdarahan. PEP yang diperlukan untuk fase ini adalah vaksinasi segera dan penanganan lokal pada luka. Kategori III adalah jika terdapat satu atau lebih gigitan atau cakaran, kulit yang luka dijilat oleh hewan suspek terinfeksi, kontaminasi membran mukosa dengan saliva hewan suspek terinfeksi, atau kontak dengan kelelawar. PEP untuk kategori III meliputi vaksinasi segera, pemberian rabies immunoglobulin, dan penanganan lokal pada luka.

Penanganan lokal pada luka

Berikut prosedur pertolongan pertama pada luka akibat gigitan hewan suspek terinfeksi rabies:

  • Cuci luka di bawah air mengalir dan sabun.
  • Gunakan antiseptik (misal: povidon iodine) atau alkohol pada luka.
  • Segera ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapat pertolongan lebih lanjut.

Vaksinasi

Vaksinasi harus diberikan pada setiap kasus suspek pajanan terhadap RV. Jika belum pernah divaksin sebelumnya, suspek pasien perlu diberikan 5 tahap dosis vaksin. Dosis pertama diberikan di hari terpajan; lalu berikutnya pada hari ke-3, ke-7, ke-14, dan ke-30. Jika sudah pernah divaksin sebelumnya, suspek pasien diberikan 2 tahap dosis, yaitu di hari terpajan dan hari ke-3. Jenis vaksin rabies rekomendasi WHO yang dipergunakan saat ini adalah:

  • Human Diploid Cell Rabies Vaccine (HDCV)
  • Purified Chicken Embryo Cell Rabies Vaccine (PCECV)
  • Purified Vero Cell Rabies Vaccine (PVRV)
  • Primary Hamster Kidney Cell Vaccine (PHKCV)
  • Purified Duck Embryo Rabies Vaccine (PDEV)

Rabies immunoglobulin

Pemberian rabies immunoglobulin diberikan kepada yang hewan atau manusia yang beresiko tinggi, dan juga diberikan vaksinasi. Terdapat dua tipe rabies immunoglobulin:

  • Human Rabies Immunoglobulin (HRIG)
  • Equine Rabies Immunoglobulin (ERIG)

Namun demikian, jika sudah timbul gejala, penyakit ini bersifat fatal. Penanganan yang dapat diberikan hanya terbatas untuk membuat pasien merasa lebih nyaman dan mengobati komplikasi. (MHW)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here