Pengertian dan Kegunaan Hiperbarik di Bidang Gastroenterologi

SehatFresh.com – #DokterTalk – Secara umum, terapi oksigen hiperbarik merupakan suatu metoda pengobatan dimana pasien diberikan pernapasan oksigen murni (100%) pada tekanan udara yang dua hingga tiga kali lebih besar daripada tekanan udara atmosfer normal (satu atmosfer). Terapi ini merupakan terapi komplementer yang dilakukan bersama dengan terapi medis konvensional.

Sebagaimana disebutkan diatas, dalam kondisi tertentu para prajurit matra kelautan rentan akan paparan masalah kesehatan kelautan. Kondisi tubuh mereka dituntut ‘akrab’ kepada kondisi bertekanan tinggi jauh dibawah permukaan laut pada saat melakukan penyelaman.

Kita semua sedih mendengar berita terbakarnya salah satu chamber hiperbarik di RSAL Jakarta. Buat kami kalangan medis tentu adanya peristiwa yang telah menyebabkan hilangnya nyawa korban dan menyebabkan jatuhnya korban luka menjadi pukulan sendiri  mengingat musibah terjadi pada pusat fasilitas kesehatan.

Beberapa teman media menanyakan saya tentang terapi hiperbarik. Saya sendiri tidak pernah melihat fasilitas hiperbarik di RSAL ini. Tetapi saya beberapa kali mengirim pasien untuk dilakukan hiperbarik ini khususnya pasien dengan kolitis radiasi. Terapi hiperbarik sendiri adalah terapi pemberian  oksigen 100 % didalam ruang dengan tekanan tinggi.

Dengan pemberian oksigen tinggi misal pada sebuah luka , maka diharapkan terjadi penyembuhan luka dan terjadi perbaikan proses oksigenisasi pada luka yang sedang meradang yang umumnya mengalami kekurangan oksigen. Modalitas hiperbarik ini pernah diteliti pada pasien kolitis radiasi yaitu pasien yang  mengalami peradangan pada usus bawahnya akibat efek samping  terkena paparan dari  radioterapi.

Hal ini bisa terjadi pada pasien kanker mulut rahim yang mengalami radioterapi atau pasien kanker prostat yang diradio terapi. Penelitian seputar peran hiperbarik di bidang gatroenterologi ini sendiri pernah dilakukan oleh Dr.Suyanto Sidik SpPD-KGEH, SpKL. Penelitian yang dilakukan beliau untuk mengambil gelar Doktor di bidang kedokteran.

Penelitian ini dilakukan pada tahun 2004 sampai 2006. Hasil penelitian sudah dipublikasi pada Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology and Digestive Endoscopy pada edisi April 2007. Pada penelitian yang dilakukan  secara acak ganda 1 kelompok pasien yang mengalami kolitis radiasi dengan mendapat hiperbarik dan kelompok lain dengan kolitis radiasi tanpa hiperbarik.

Ternyata setelah mendapatkan hiperbarik angka kejadi proktitis radiasi secara bermakna pada kelompok yang mendapatkan hiperbarik dibandingkan pada kelompok yang tidak mendapat hiperbarik. Evaluasi dampak pengobatan setelah 6 bulan baik secara endoskopi (peneropongan saluran cerna secara langsung)  maupun secara pemeriksaan histopatologi.

Hasil lengkap penelitian diagnosis kolitis radiasinya di lakukan di RSCM dan terapi hiperbariknya di RSAL. Pada akhirnya tentu kita beharap agar tim investigasi cepat bekerja agar sisa chamber yang ada bisa dimanfaatkan kembali mengingat hiperbarik sudah menjadi modalitas terapi pada kondisi tertentu pasien terutama kondisi penyakit yang membutuhkan oksigen tinggi.
Salam sehat,

Oleh : Dr. Ari Fahrial Syam, MD.PhD,FACP

Sumber gambar : www.hisarhospital.com

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY