Pengertian dan Penyebab Asfisika Neonatorum pada Bayi Baru Lahir

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Asfiksia neonatorium adalah keadaan dimana bayi yang baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Umunya keadaan ini akan dialami pada Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum dilahirkan. Masalah ini dapat disebabkan oleh gangguan kesehatan ibu pada saat hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi pada saat persalinan atau sesudah persalinan. Apabila tidak dilakukan penanganan secara cepat dan sempurna maka Akibat yang timbulkan dari asfiksia neonatorium akan bertambah buruk  penanganan bayi tidak dilakukan secara cepat dan tepat. Tindakan yang dilakukan pada bayi bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin terjadi. (Wiknjosastro, 1999)

Berdasarkan data WHO setiap tahunnya, sekitar 3% (3,6 juta) dari 120 juta bayi lahir mengalami asfiksia. Dari data tersebut, sekitar hampir 1 juta bayi meninggal akibat gagal pada proses penanganan asfiksia. Kasus yang terjadi di Indonesia, dari seluruh angka kematian bayi, sebanyak 57% meninggal pada masa neonatal (usia kurang dari 1 bulan). Setiap 6 menit terdapat 1 neonatus yang meninggal. Pada kasus ini, asfiksia Neonatorium menyumbang sekitar 27% Penyebab kematian neonatal di Indonesia.

Penyebab Asfiksia Neonatorium

Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia neonatorium pada bayi yang baru dilahirkan, diantaranya adalah faktor faktor ibu, tali pusat bayi, dan dari bayi itu sendiri. Berikut penjelasannya:

  • Pertama Faktor ibu. Preeklampsia dan eklampsia. Pendarahan yang terjadi secara abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta), Partus lama atau partus macet, Demam pada waktu persalinan, dan Infeksi berat (sifilis, malaria, TBC, dan HIV) atau Kehamilan melebihi perkiraan waktu melahirkan (setelah 42 minggu kehamilan).
  • Kedua Faktor Tali Pusat. Penyebab terjadinya Asfiksia Neonatorium pada bayi baru lahir dapat disebabkan oleh Lilitan tali pusat yang kurang sempurna, Tali pusat pendek, hingga Simpul tali pusat atau Prolapsus tali pusat.
  • Ketiga Faktor Bayi. Bayi yang baru dilahirkan berpotensi mengalami Asfiksia Neonatorium apabila proses kelahirannya dilakukan melalui tindakan (bayi kembar, ekstraksi vakum, sungsang, distosia bahu, ekstraksi forsep), bayi lahir secara prematur (biasanya lahir sebelum 37 minggu usia kehamilan), Kelainan bawaan (kongenital), Air ketuban bercampur dengan mekonium (warnanya kehijauan).

Apabila hal-hal diatas terjadi, maka penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko yang berpotensi menimbulkan asfiksia neonatorium pada bayi. Setelah diperiksa dan ditemukan adanya faktor risiko tersebut, maka hal itu harus segera dibicarakan dengan ibu dan keluarganya tentang kemungkinan perlunya tindakan resusitasi atau tindakan untuk menyadarkan kembali kondisi bayi. Namun, seringkali faktor risiko menjadi sulit dikenali atau sepengetahuan penolong tidak dijumpai tanda-tanda tetapi asfiksia pada bayi tetap terjadi.

Untuk menurunkan angka kematian bayi baru lahir karena asfiksia, proses persalinan harus ditangani oleh tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan dan keterampilan manajemen asfiksia pada bayi baru lahir, kemampuan dan keterampilan ini harus diterapkan setiap kali menolong persalinan. Oleh karena itu, penanganan resusitasi pada bayi baru lahir sangat penting dimiliki oleh setiap tenaga professional yang terlibat dalam penanganan bayi baru lahir. (AGT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here