Pengertian Gangguan Anovulasi pada Reproduksi Wanita

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Anovulasi terjadi ketika seorang wanita tidak mengalami ovulasi. Ovulasi adalah lepasnya sel telur dari indung telur untuk proses pembuahan. Pelepasan telur ini merupakan proses yang sangat penting jika seseorang menginginkan kehamilan.

Ketika anovulasi terjadi, wanita tentu tidak bisa hamil karena tak ada sel telur untuk dibuahi sperma. Namun, bagi wanita yang telah menopause, ini adalah hal yang normal. Sementara wanita dalam usia subur biasanya tidak mengalami anovulasi kecuali ada suatu kondisi yang mengganggu kadar hormon tubuh atau merusak ovarium.

Jika ovulasinya tidak teratur tetapi tidak sepenuhnya hilang, ini disebut oligo-ovulasi. Anda mungkin pernah mengalaminya sekali atau dua kali tapi tidak menyadarinya. Itu karena ketika Anda mengalami anovulasi, Anda mungkin masih terlihat menstruasi dengan normal. Anovulasi dan oligo-ovulasi termasuk dalam kelompok disfungsi ovulasi. Dan kondisi ini menyebabkan infertilitas pada hingga 40 persen perempuan infertil.

PCOS atau Sindroma Ovarium Polikistik adalah sekumpulan gejala yang disebabkan oleh gangguan kesimbangan hormonal yang cukup sering dijumpai pada perempuan di usia reproduktif, juga termasuk penyebab dari kondisi disfungsi (gangguan) ovulasi. Disebutkan juga bahwa kondisi anovulasi ini ditemukan sekitar 18 persen pada perempuan normal.

Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan anovulasi, antara lain:

  • Sindrom ovarium polikistik
  • Gangguan hormonal lain
  • Obesitas atau penurunan berat badan ekstrem.

Anovulasi atau oligo-ovulasi adalah jenis gangguan ovulasi (disfungsi ovulasi). Biasanya wanita dengan kondisi ini akan mengalami siklus menstruasi yang tidak teratur. Dalam kondisi yang lebih parah, seorang wanita mungkin tidak mengalami menstruasi sama sekali.

Jika siklus Anda kurang dari 21 hari, atau lebih lama dari 36 hari, sangat mungkin Anda mengalami gangguan ovulasi. Demikian pula jika siklus Anda ada dalam batas normal, 21-36 hari tetapi panjang siklus tersebut berubah-ubah dari bulan ke bulan, ini juga mungkin merupakan tanda gangguan ovulasi.

Pada pasangan tanpa infertilitas, kemungkinan pembuahan terjadi sekitar 25 persen setiap bulan. Bahkan ketika ovulasi terjadi secara normal, masih ada kemungkinan tidak terjadinya kehamilan.  Ketika wanita mengalami anovulasi, ia tidak dapat hamil karena tidak ada sel telur yang dibuahi. Jika Anda mengalami ovulasi yang tidak teratur, Anda memiliki lebih sedikit kesempatan untuk hamil, karena lebih jarang mengalami ovulasi.

Selain itu, ovulasi yang terlambat tidak menghasilkan telur berkualitas terbaik. Ini juga membuat peluang terjadinya pembuahan lebih sedikit. Juga, ovulasi yang tidak teratur berarti hormon dalam tubuh wanita tidak seimbang. Keseimbangan hormonal ini kadang-kadang dapat menyebabkan masalah lain, termasuk:

  1. Kurangnya lendir serviks yang subur
  2. Tingkat progesteron yang sangat rendah
  3. Fase luteal yang lebih pendek
  4. Penipisan atau penebalan berlebihan dari endometrium (dinding rahim). (KKM)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here