Pengertian Imunisasi Hepatitis B

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Hepatitis B adalah infeksi hati yang paling umum dan telah menjadi isu kesehatan yang serius baik itu skala nasional maupun global. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis B. Kementrian Kesehatan RI pada tahun 2014 melaporkan bahwa Indonesia merupakan negara dengan endemisitas Hepatitis B tertinggi kedua di Asia Tenggara. Berdasarkan statistik dari Hepatitis B Foundation – Baruch S. Blumberg Institute, dua miliar orang (atau 1 dari 3 orang) di dunia telah terinfeksi virus ini dan lebih dari 240 juta orang hidup dengan infeksi hepatitis B kronis. Setiap tahunnya, hampir 1 juta orang meninggal akibat hepatitis B padahal penyakit ini bisa diobati dan efektif dicegah dengan imunisasi.

Virus Hepatitis B dapat ditularkan melalui darah, sperma, ataupun cairan tubuh lainnya. Penularan bisa terjadi melalui dua cara. Pertama, penularan virus secara vertikal, yang terjadi dari ibu yang menderita hepatitis B kepada bayinya saat persalinan. Kedua, penularan virus secara horizontal, yang terjadi melalui tindakan atau perilaku yang memungkinkan perpindahan cairan tubuh dari orang yang terinfeksi ke tubuh orang yang sehat, seperti berhubungan seks atau berbagi barang pribadi.

Infeksi hati akibat hepatitis B dapat bersifat akut maupun kronis. Infeksi akut ini umumnya dialami orang dewasa. Sedangkan hepatitis B kronis terjadi saat virus menetap dalam tubuh selama lebih dari enam bulan. Jenis hepatitis B ini lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak. Hepatitis B baik itu yang sifatnya akut atau kronis dapat berlanjut menjadi sirosis hati, dan ini meningkatkan risiko kanker hati. Dengan demikian, Hepatitis B sepatutnya diwaspadai dan dicegah sejak dini. Hepatitis B dapat dicegah secara efektif melalui imunisasi atau vaksinasi.

Di Indonesia sendiri, vaksin hepatitis B termasuk vaksin wajib dalam imunisasi dasar. Vaksin diberikan tiga kali, yaitu saat lahir (12 jam setelah dilahirkan), saat anak berusia 1 bulan, dan saat anak berusia 6 bulan. Semua anak-anak dan remaja yang berusia kurang dari 19 tahun yang belum pernah imunisasi hepatitis B juga harus divaksinasi. Setiap orang dewasa juga memiliki risiko infeksi hepatitis B sehingga semua orang penting juga untuk mempertimbangkan vaksinasi. Namun, ada kelompok-kelompok berisiko yang benar-benar harus menerima vaksin hepatitis B, yaitu:

  • Orang-orang yang menggunakan narkoba suntik atau memiliki pasangan yang menggunakan narkoba suntik.
  • Orang-orang yang sering berganti pasangan seksual.
  • Orang yang memiliki kerabat dekat atau pasangan seks yang mengidap Hepatitis B.
  • Orang yang rutin menerima transfusi darah.
  • Orang yang memiliki penyakit hati (liver), penyakit ginjal, infeksi HIV, atau diabetes.
  • Orang yang bepergian ke negara dengan endemisitas Hepatitis B yang tinggi.
  • Pria yang melakukan hubungan seks sesama jenis.
  • Orang yang pekerjaannya mengharuskan untuk bersentuhan dengan darah atau cairan tubuh, seperti perawat, petugas lapas, dokter, dan staf laboratorium.
  • Keluarga yang mengadopsi anak dari negara-negara yang berisiko tinggi hepatitis B.
  • Korban pemerkosaan atau kekerasan seksual.

Efek samping yang timbul setelah divaksin umumnya hanya berupa kemerahan dan nyeri ringan di area bekas suntikan. Akan tetapi, vaksin tidak boleh diberikan pada orang yang memiliki alergi jamur atau pernah mengalami reaksi alergi berat yang berpotensi mengancam jiwa setelah menerima vaksin hepatitis B. Selain itu, orang yang sedang sakit pada saat akan menerima vaksin. Sebaiknya menunggu hingga benar-benar sebelum dapat menerima vaksin. Namun, ini tergantung dari keparahan sakit yang dialami. Kesimpulannya, vaksin hepatitis B efektif dan aman, dan perlu menjadi pertimbangan semua orang, terlebih lagi orang-orang yang berisiko tinggi hepatitis B.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY