Pengertian Kegagalan Testis Memproduksi Kadar Testosteron atau Hipogonadisme

www.sehatfresh.com

SehatFresh.com – Hipogonadisme mungkin masih terdengar asing di telinga pria. Padahal secara medis, seluruh kaum pria dapat dipastikan akan mengalami penyakit ini. Terlebih bila mereka telah menginjak usia di atas 50 tahun.

Secara medis, hipogonadisme dapat diartikan sebagai kegagalan testis memproduksi kadar testosteron fisiologis dan spermatozoa dalam jumlah normal. Akibat gejala tersebut, kehidupan seks kaum pria dipastikan terganggu. Sebab, kekurangan testosteron dapat mengakibatkan turunnya libido atau dorongan seksual dan disfungsi ereksi pada pria.

Hipogonadisme adalah kondisi pada pria di mana testis tidak dapat memproduksi hormon testosteron yang memadai. Salah satu fungsi buah zakar (testis) adalah untuk mensekresi (menghasilkan) hormon testosteron. Hormon ini berperan penting untuk perkembangan dan menjaga karakteristik fisik pada pria. Yang dimaksud dengan karakteristik fisik adalah kekuatan dan massa otot, distribusi lemak, massa tulang, produksi sperma dan gairah seksual.

Hipogonadisme dibagi menjadi dua jenis yaitu hipogonadisme primer dan hipogonadisme sekunder. Pada hipogonadisme primer testis mengalami kelainan, kadar testoteron rendah disertai meningkatnya hormon gonadotropik. Kondisi ini disebut dengan hipogonadotropik-hipogonadisme.

Sementara pada hipogonadisme sekunder, kelenjar hipofisis di otak yang mengalami gangguan. Pada kasus ini kadar hormon testosteron dan hormon gonadotropik berada pada tingkat yang rendah. Kondisi ini disebut hipogonadisme-hipogonadotropik dan mengakibatkan beberapa penyakit kronis, seperti tumor hipofisis, penyakit-penyakit kritis serta kondisi pascaradiasi.

Selain menurunkan libido dan juga disfungsi ereksi, hipogonadisme juga bisa mengakibatkan infertilitas karena adanya masalah produksi sperma di dalam testis. Tak hanya itu, pria yang terserang hipogonadisme cenderung lesu, tak bersemangat hingga depresi. Hipogonadisme bisa dialami sejak janin berkembang di perut, sebelum masa puber atau saat dewasa. Penyebab hipogonadisme beragam, seperti:

  • Sindrom klinefelter

Sindrom ini disebabkan oleh adanya kromosom seks yang abnormal.

  • Testis undescended

Merupakan suatu keadaan di mana testis tidak turun dari perut ke kantong zakar (skrotum) saat bayi lahir.

  • Hemokromatosis

Merupakan suatu kondisi di mana terlalu banyak zat besi di dalam darah, yang dapat menyebabkan gangguan fungsi testis dan kelenjar pituitari.

  • Trauma testis

Cedera atau trauma pada testis yang menyebabkan kerusakan pada testis dapat mempengaruhi produksi testosteron.

  • Pengobatan kanker

Berbagai pengobatan kanker, seperti kemoterapi atau radiasi dapat mengganggu produksi testosteron dan sperma oleh testis.

  • Penuaan

Kadar hormon testosteron menurun seiring dengan semakin bertambahnya usia anda.

  • Gangguan kelenjar pituitari

Berbagai hal yang menyebabkan gangguan pada kelenjar pituitari seperti cedera kepala atau tumor, dapat mempengaruhi kemampuan kelenjar untuk mengirimkan sinyal kepada testis untuk memproduksi testosteron.

  • Obat-obatan

Beberapa efek samping obat dapat mempengaruhi kemampuan produksi testosteron. Contoh obat-obatan tersebut adalah obat anti psikosis. (SBA)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here